Selasa, 23 Juni 2015

Menumbuhkan Motivasi Menulis




Menumbuhkan motivasi menulis
            Sudah menjadi sebuah kebenaran umum bahwa tujuan diciptakannya makhluk, salah satunya manusia adalah untuk mengabdi kepada Sang Khaliq, yakni Allah SWT. Salah satu perintah yang taka sing bagi kita adalah membaca dan menulis. Perintah membaca dan menulis ini ditegaskan dalam Al-Qur’an yang tercantum dalam Q.S.68 : 1 – 3 yang terjemahannya sebagai berikut :
            “ Nun, Demi Kalam dan apa yang mereka tulis, berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.”
            Perintah membaca dan menulis ini merupakan perintah yang paling berharga yang diberikan kepada umat manusia sebab membaca merupakan jalan yang akan mengantarkan manusia mencapai derajat kemanusiaan yang sempurna.
            Bagi seorang pemula, memulai menulis merupakan hal yang sulit. Namun sebenarnya, semua orang memiliki bakat menulis. Hanya perlu berlatih dan meningkatkan keterampilan menulis untuk berbagai kebutuhan.
            Allah berfirman dalam Q.S 92 : 4 “Sesungguhnya Usaha kamu memang berbeda-beda.”  Talenta (bakat) telah diberikan oleh Allah. Hal yang perlu kita lakukan adalah menemukan dan mengembangkan bakat tersebut. Bakat hanya merupakan syarat perlu, tapi belum mencukupi untuk menulis. Adanya bakat akan membuat seorang calon penulis lebih mudah menyerap teori-teori penulisan. Sekedar memiliki bakat saja tidak cukup, disinilah letak pentingnya motivasi menulis yang tinggi. Ada beberapa hal yang dapat memupuk motivasi dalam menulis. (Solihin, 2007) :
            Pertama : Memosisikan motivasi menulis sebagai bagian dari ibadah. Jika motivasi menulis dan menjadi penulis adalah ibadah, insyaallah kegiatan tersebut akan terus berlangsung. Dengan memosisikan kegiatan menulis sebagai bagian dari ibadah, jika kegiatan menulis tersebut tidak dijalankan maka sama artinya dengan tidak beribadah kepadaNya.
            Kedua : jadikan menulis adalah bagian dari perjuangan. Perjuangan tidak selalu identik dengan mengangkat senjata. Menyadari kegiatan menulis sebagai bagian dari perjuangan akan memberikan tenaga tambahan bagi anda untuk menulis dan tetap menulis.
            Menjadi Penulis Produktif
            Banyak penulis yang mengalami kesulitan dalam menemukan ide menulis. Ada juga penulis yang hanya sekedar menulis namun tidak mampu menjadi penulis produktif. Banyak sebab yang membuat penulis kesulitan menemukan Ide atau bahkan menjadi penulis yang produktif, diantaranya adalah : Pertama, karena belum mengetahui hakikat Q.S. 18 : 109
            Katakanlah : Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”.
            Ayat ini menunjukkan betapa Maha Luasnya ilmu Allah. Bahkan bila seluruh lautan jadi tinta untuk menulis, tak akan mampu menulis kalimat-kalimat Allah. Kedua : Bisa jadi hal ini dikarenakan didalam otaknya belum terbentuk “system menulis”. Otak kita belum bias menjadi ‘Writing Oriented’. Oleh karena itulah kita harus melatih otak kita agar menjadi Writing Oriented agar didalam otak kita bias terbangun Sistem menulis. Cara yang dianjurkan adalah : pertama, jadikan kegiatan menulis sebagai pilihan hidup, bukan hobi semata yang dikerjakan hanya ketika ada mood, atau hanya ketika ada sisa waktu. Dengan kata lain, jadikanlah menulis sebagai gaya hidup anda. Kedua :menumbuhkan kebiasaan menulis. Menurut Setiaji, kebiasaan menulis bisa ditumbuhkan dengan cara membaca, berdiskusi dengan teman atau orang lain untuk mendapatkan masukan atau kritik sehingga semakin terasah pula kemampuan berfikir dan kesanggupan untuk memahami pendapat lain, kemudian mengikuti seminar, workshop, atau talkshow, untuk menambah wawasan, dan yang terakhir yaitu dengan mengamati peristiwa kejadian dan peristiwa kejadian yang terjadi dikehidupan kita.
            Bagi seseorang, untuk memulai menulis tentunya akan mengalami beberapa hambatan. Hambatan yang dialami oleh tiap orang yang ingin menulis itu berbeda-beda. Menurut Wardhana dan Ardianto (2007), ada dua penyebab utama yang menjadi factor penghambat kegiatan menulis. Pertama, Faktor Internal yaitu Faktor penghambat yang berasal dari dalam diri sendiri, seperti Ia memang tipe orang yang tidak senang membaca, belum memiliki kemampuan bahasa yang baik, dan belum adanya minat dan keinginan untuk menulis. Dan factor penghambat yang kedua yaitu Faktor Eksternal, yakni seperti sulitnya mendapat bahan acuan dan referensi untuk menulis, sulit mencari topic ataupun tema untuk bahan tulisan, dan kesulitan dalam menyusun kalimat baku.
Mengelola waktu untuk menulis
            Seorang penulis professional masih memerlukan keahlian khusus dalam mengelola waktunya untuk menulis dan membaca. Karena membaca juga merupakan syarat penting untuk mampu menulis. Seorang penulis professional masih memerlukan banyak referensi untuk terus berlatih agar mampu membuat tulisan terbaiknya. Ada yang telah berlatih hingga menciptakan 10 buah buku, 50 buku, bahkan 100 buku. Dan semua itu memerlukan waktu untuk membaca dan juga untuk menulis. Lantas bagaimana dengan seorang penulis pemula ?  bagaimana caranya agar kita juga memiliki banyak waktu untuk membaca dan juga berlatih menulis ? caranya cukup mudah, kita hanya perlu mengalokasikan waktu kita atau mengganti waktu-waktu yang tadinya hanya digunakan untuk hal-hal yang sepele atau tidak produktif menjadi kegiatan yang bermanfaat dan produktif. Salah satu contohnya yaitu menulis.
            Telah terpenuhinya syarat perlu dan syarat cukup saja tidak cukup. Ada beberapa hal yang harus dilakukan agar keterampilan, kualitas, dan produktivitas menulis meningkat. (Rahmawan,2009 ; Jonru, 2009) yaitu :
Pertama : Sediakan waktu khusus untuk menulis, ini menjadi syarat utama dapat-tidaknya penulis menghasilkan karya tulis.
Kedua : Disiplin dalam mengelola waktu.
Ketiga : Menghargai waktu dan tidak menunda-nunda pekerjaan. Dalam dunia tulis – menulis, apalagi yang akan ditulis adalah Ide, maka menunda-nunda pekerjaan adalah Haram dilakukan. Ketika Ide datang, maka saat itu juga kita harus menuliskannya. Kapan kita tunda, Ide itu tidak akan datang untuk kedua kalinya. Terkadang setelah Ide lenyap, maka yang ada hanya mengingat apa yang baru saja terfikirkan oleh kita. Itupun tidak akan membuahkan hasil yang sama dan maksimal.
Keempat : Kenali aktivitas harian. Banyak orang yang merasa dirinya sibuk karena tugas yang banyak, namun tidak menyadari waktu luang yang bisa dimanfaatkan disela-sela kesibukannya.
Kelima : Mengerti Prioritas. Qardhawi (2009) mengungkapkan urutan amal yang terpenting diantara yang penting. Sangat penting dan sangat mendesak, tidak penting dan sangat mendesak, sangat penting dan tidak mendesak, tidak penting dan tidak mendesak.
Keenam : Gunakan waktu perjalanan.
MANUSIA DALAM SEJARAH : Sebuah Pengantar
            Menjadikan Biografi sebagai sasaran penelitian dan penulisan kadang-kadang dapat membawa orang pada dua kemungkinan yang bertolak belakang. Ia – Si peneliti, jika itu yang dikehendakinya – bisa merasa puas dengan data dasar mengenai tokohnya. Lahirnya diketahui, orang tuanya dikenal, tempat dan tingkat pendidikannya dicantumkan, kedudukan yang pernah dijabat ditelusuri, dan seterusnya. Tak salah, tetapi jika ini yang dilakukan, maka akan lebih baik jika ia tidak berhenti pada satu orang saja. Akan lebih baik jika diteruskan dengan catatan tentang tokoh-tokoh lain, yang sepekerjaan, sestatus, atau sedaerah, dengan yang pertama.
            Kemungkinan kedua ialah terlibatnya pada hal-hal yang bersifat spekulatif – filosofi. Apakah peranan sesungguhnya dari tokoh dalam sejarah ? apakah ia ; yang menentukan jalannya sejarah, ataukah ia tak lebih dari alat yang kebetulan berada dalam kedudukan yang strategis saja. Penghadapan yang sadar terhadap masalah ini sering berarti telah lebih dulu membuat penilaian. Penulis biografi telah lebih dulu menempatkan tokohnya dalam konteks sejarah yang kosmis sifatnya. Ia telah lebih dulu menentukan sikap, sebelum menelitinya. Tetapi jika tidak, berarti ia sesungguhnya telah menentukan pilihan ideologisnya. Dengan keterlibatannya dalam kehidupan tokohnya ia biasa telah beranggapan bahwa peranan tokohnya dominan. Dan sering terjadi, ia akan terbuai pada hagiografi dimana biografi telah menjadi riwayat para “Orang suci”, bukan manusia biasa.
            Tetapi untunglah hidup ini tidak selalu menghadapkan kita kepada hal-hal yang serba ekstrim berlawanan. Dengan pengetahuan yang luas dan kesadaran sejarah yang dalam serta didukung oleh imajinasi historis, seorang penulis biografi dapat juga menempatkan tokohnya dalam proporsi yang wajar. Dengan menyadari kemungkinan berpengaruhya hal-hal yang mempermasalahkan soal metodologis. Dengan kata lain bukanlah permasalahan spekulatif yang memukaunya – jawaban terhadap hal yang spekulatif sering bersifat “misteri” – tetapi soal-soal kritis-analisis. Ia mungkin, jika ia mau, mempersoalkan seberapa jauh ia dapat mengetahui sepenuhnya kehidupan seseorang? Dapatkah ia mencari hubungan antara tindakan dan perilaku yang terlihat, dengan nilai dan dorongan psikologis dari tokoh yang ditelitinya ? masalah ini menyangkut pula hal yang lebih umum, tetapi fundamental. Bagaimanakah penulis biografi menangkap dan mengerti pergumulan tokohnya dengan lingkungannya ? masalah ini menjadi lebih sulit bagi penulis biografi yang harus berhadapan dengan tokoh “besar”. Makin dinaggap “besar” seorang tokoh makin terselimutlah dirinya itu dengan nilai-nilai dan anggapan yang telah dikenakan kepadanya. Secara analogis, bisa disebut bahwa penulis biografi, berhadapan dengan seseorang yang berbaju tebal, sedangkan ia sesungguhnya mau mengetahui badan alamiyah dari orang tersebut. “ baju tebal” tersebut adalah realitas-realitas palsu yang menghambat pengenalan langsung terhadap pemakainya. Sering sekali baju tebal itu adalah pula ciptaan social, yang tumbuh sebagai akibat dari berlanjutnya proses sosialisasi.
            Dengan ketelitian penulis biografi diharapkan untuk mengetahui dan merekam kejadian dan situasi yang mengitari kehidupan tokohnya. Ia diharapkan untuk mendalami aspek-aspek struktural yang mengelilingi hidup tokohnya. Ia biasanya mempunyai interpretasi terhadap semuanya. Disamping itu ia harus mencatat perbuatan dan tindakan yang dilakukan tokohnya dalam konteks historis yang telah diketahuinya itu. Namun merupakan sebuah keharusan baginya untuk mengetahui apa interpretasi si actor, tokohnya, terhadap lingkungan itu. Dengan mengetahui ini, Ia-Si penulis bukan saja harus sadar sepenuhnya tentang mana interpretasinya sendiri tentang situasi historis dari tokohnya dan mana pula interpretasi tokoh itu sendiri. Bersandarkan atas kesadaran yang jujur terhadap kemungkinan perbedaan interpretasi tokoh itu sendiri. Bersandarkan atas kesadaran yang jujur terhadap kemungkinan perbedaan interpretasi ini sipenulis secara metodologis lebih dimungkinkan untuk melihat dan merasakan apa yang dilihat dan dirasakan oleh si tokoh. Ia ‘tahu’ dan ia ‘mengalami’. Dengan begini bisalah dimengerti bahwa biografi yang merupakan mikro – sejarah paling basis, sering disebut sebagai salah satu genre dari sastra.
            Yang menjadi masalah bagi seorang penulis biografi adalah keharusan untuk menerangkan segala sesuatu itu secara rasional. Bukan ke-rasional-an atau tidaknya suatu peristiwa yang dipersoalkan., tetapi keharusan untuk diceritakan secara rasional. Memang dalam hal ini si penulis haruslah dengan sadar keluar dari ambivalensi, sifat serba-dua, yang sering dikenakan pada sejarah-sejarah-sebagaimana-ia-terjadi dan sejarah-bagaimana-ia-diceritakan.
            Berbagai cara dapat dipakai. Apakah hidup seseorang akan dikisahkan dengan gaya bercerita ataukah secara analitis mencoba menempatkan hidup seseorang itu dalam konteks sejarah tertentu, ataukah hidupnya hanya dilihat dari thema tertentu saja. Namun tugas utama dari penulis biografi ialah mencoba menangkap dan menguraikan jalan hidup seseorang dalam hubungannya dengan kehidupan lingkungan social-historis yang mengitarinya. Seseorang seharusnya dilihat sebagaimana seharusnya ia berkembang, bukannya bagaimana masyarakat ingin melihat.
            Inilah pada keharusan yang kedua inilah, mengapa biografi, seperti juga uraian sejarah pada umumnya, sering harus ditinjau lagi. “Ia” yang sesungguhnya itu tidak segera menampakkan diri dari “baju tebal” yang menyelimutinya. “ia” yang sesungguhnya mendapat “naju” baru sejalan dengan symbol yang ingin diperteguh masyarakat dan dengan keinginan masyarakat untuk dijadikan contoh atau kadang-kadang personifikasi symbol itu sendiri.
            Dengan mendalami dan mencoba mengemukakan dialog dari kedua hal ini – ‘diri’ dan ‘penilaian sejarah’ – dari seseorang maka penulis biografi sekaligus akan mengemukakan dua hal. Yang pertama, tentu saja bagaimana tokohnya mencoba mengatasi segala hambatan, social- ekonomis, kulturil, ataupun psikologis, yang mengitari dirinya. Yang kedua Ia – Si penulis, akan melihat perubahan social – politik yang mempengaruhi dasar penilaian sejarah.
            Suatu problema memang, sampai dimana perubahan social – politik, apalagi politik – kekuasaan saja, secara fundamental menukar dasaj asumsi kulturil dari penilaian sejarah. “jelek” dan “baik” adalah masalah etis; tempatnya bisa berganti sesuai dengan pergantian kekuasaan atau orientasi ideologis. Pemberontakan terhadap kekuasaan yang syah bisa dinilai “baik” atau “jelek”, tergantung dari sudut bagaimana sikap terhadap “kekuasaan yang syah” itu sekarang. Tetapi kedua penilaian itu sebenarnya bersumber dari dasar konseptual yang sama-kekuasaan dipakai sebagai kriterium.
            Dalam hal ini bisa pulalah dimengerti bahwa kadang –kadang si tokoh, ketika ia masih hidup, adalah sesungguhnya penganut dari dasar konseptual itu. Karenanya bukan tak mungkin pula dalam perbuatannya, dan terutama dalam usahanya menerangkan maksud dan arti perbuatannya, ia dibimbing oleh sikap ini. Ia seakan – akan memaksa sejarah menilainya sesuai dengan nilai yang dikenakan kepada dirinya.
            Dengan menyadari hal-hal ini maka bukan saja “baju tebal” yang telah dikenakan pada masyarakat dapat dibuka lagi, tetapi juga kesan yang ditimbulkan oleh pelaku terhadap dirinya dapat pula difahami.