Rabu, 19 Maret 2014

Tugas News

Sosialisasi Jurusan KPI part II


Samata, Gowa (18/3/14). Himpunan Mahasiswa jurusan Komunikasi dan penyiaran Islam (HMJ KPI) Melaksanakan Sosialisasi jurusan part II yang merupakan program kerja lanjutan dari sosialisasi jurusan part I yang telah dilakukan di 10 kabupaten di sulawesi selatan, pada tanggal 18-25 februari 2014 Lalu.
Sosialisasi jurusan part II ini dilaksanakan oleh pengurus HMJ KPI yang didominasi oleh Mahasiswa jurusan KPI ang. '12. kali ini, sosialisasi jurusan dilakukan di 3 kabupaten, yaitu Takalar, Gowa, dan Makassar.
"Kita juga perlu memperkenalkan KPI kepada calon Mahasiswa yang berasal dari daerah tetangga kita. agar mereka juga tau betapa hebatnya Jurusan KPI. karena Mahasiswa jebolan jurusan KPI itu mempunyai prospek kerja yang sangat luas." Ungkap Fadli Rachman selaku ketua HMJ KPI. (19/3)
Menurut Mahasiswa KPI semester IV ini, sosialisasi part II kali ini tidak se-seru sosialisasi part I, karena selain tidak bisa mengambil pengalaman yang lebih banyak, waktu yang dimiliki juga sangat singkat sehingga sosialisasi part II kali ini terkesan terburu-buru. akan tetapi, meskipun begitu Kamaria (20) yang merupakan salah satu mahasiswa KPI yang ikut tour sosialisasi ini mengaku bahwa "Dari sosialisasi jurusan ini, kita mendapat banyak pelajaran dan tentunya saya sendiri juga bisa mengenal jurusan KPI lebih dalam lagi."
(Elok faiqoh)

All about me :)

Siapa yang tidak tau kata "Elok" ? Yang ngaku sebagai warga indonesia yang baik sudah pasti tau doonk "Elok" itu artinya apa ? iyakan ? Iya doonkk... soalnya "Elok" juga ada dalam KBBI yang berarti "Indah, cantik, baik, de el el." :D
Yup, bener banget ! "Elok" juga identik dengan "Jawa". Seperti kejadian yang kerap kali aku dapetin ketika sang Dosen menyebut namaku pada pertemuan kuliah perdana, kebanyakan sang Dosen langsung menebak "Elok orang jawa ya ?" Hahahahaa... Nempel Banget deh julukan 'Jawa' itu di nama 'Elok'. Nggak heran sih,  karena kata "Elok" itu memang lebih dominan digunakan oleh orang jawa, jadi wajar aja doonk kalau orang yang pertama kenal aku slalu nebak kalau aku tuu orang Jawa.
Eits, tapi nggak ada salahnya juga siih, soalnya Orang tuaku juga Orang jawa, cuma akunya aja yang Lahir, dan besar di Makassar. 
Next, all about me... 
Aaaargh.. Hampir Lupa ! Nama Lengkapku Elok Faiqotul Himmah. and Bulan februari lalu, tepatnya pada tanggal 7 aku baru aja ngerayain Ulang tahunku yang ke-19 tahun. Dan kali ini Ulang tahunku berkesan banget lhoo... soalnya aku dikerjain habis-habisan sama Temen-temen Crew Radio Syiar 107.1 fm. Bener-bener habis dah pokoknya !!!
Apalagi Directur Radio kami juga ikut andil ngerjain aku, sampai akunya disuruh buat Surat pernyataan pengunduran diri juga !!!  x_x Parah bangett dahh !!! 
Next, dalam keluarga aku juga berperan menjadi kakak dari 2 adikku, dan tentunya di posisi ini aku dituntut untuk bisa menjadi panutan yang baik untuk ke-2 adik-adikku ini... 
aku dan ke Dua adik-adikku ini tidak memiliki banyak perbedaan wajah, bahkan orang yang tidak kenal kami pun bisa langsung tau kalau kita bertiga ini bersaudara. yup, hanya saja aku versi ceweknya and adikku versi cowoknya... 
nah, tentunya dalam keluarga aku tetap yang paling cantik dooonkk :D Hahahhahahah :D 
Nggak percaya ? 
Nihh ...

Hahahahhaaa... Numpang Narsiissss :D 




Senin, 17 Maret 2014

Aliran - aliran Psikologi

BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang

Psikologi sebagai satu ilmu pengetahuan sudah berdiri sendiri sekitar abad ke 18, dari berbagai tokoh kemudian terbentuk aliran-aliran psikologi dengan berbagai teorinya masing-masing. Tujuan dari berbagai aliran tersebut tiada lain hanyalah ingin mengetahui lebih dalam lagi tentang ilmu yang mempelajari tentang jiwa ini. 
Dari masa-kemasa aliran-aliran tersebut semakin meluas dan semakin banyak, bukan hanya tokohnya, akan tetapi para pengikut dari tokoh-tokoh itu pun mungkin sudah tak terhitung, untuk mengetahui lebih dalam tentang hal tersebut maka penulis mencoba untuk memaparkan sebagian dari hal-hal tersebut. 
Untuk lebih spesifiknya penulis akan mencoba memaparkan tentang empat aliran Psikologi yang banyak digunakan oleh sebagian besar tokoh Psikologi modren, diantaranya; aliran Humanistik, Analisis, Gestalt dan Behavourisme serta teori yang dikemukakan oleh empat aliran tersebut.

B.    Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas penulis dapat merumuskan beberapa masalah :
1. Siapa yang mencetuskan empat aliran psikologi tersebut diatas?
2. Teori apa saja yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh aliran tersebut?
3. Apa manfaat mempelajari Ilmu Jiwa Umum?




1
c.      Tujuan Penulisan
Setiap sesuatu yang ada didunia ini pasti mempunyai tujuan tersendiri tak terkecuali makalah ini, yang pastinya juga mempunyai tujuan yang ingin dicapai oleh penulis, diantaranya adalah: 
1. Mengetahui tokoh-tokoh yang mencetuskan empat macam aliran tersebut diatas.
2. Mengetahui teori-teori yang dikemukakan oleh tokoh utama aliran-aliran tersebut.
3. Mengetahui tahun berdiri aliran-aliran tersebut.
4. Sebagai pengalaman dalam dunia kepenulisan yang dituntut untuk selalu memberikan asupan terhadap perkembangan kehidupan.
5. Sebagai tugas kelompok untuk memenuhi tugas mata kuliah psikologi umum.


BAB II
PEMBAHASAN

ALIRAN-ALIRAN  DAN MANFAAT  PSIKOLOGI
A.   Aliran-aliran Psikologi
Setelah psikologi berdiri sendiri, lambat laun para ahli psikologi mengembangkan sistematika dan metode-metodenya sendiri, yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dengan demikian timbul apa yang disebut aliran-aliran dalam psikologi. Sejak zaman dahulu aliran-aliran dalam satu bidang ilmu sangat penting artinya untuk membina semangat para ahli dalam berkompetisi menemukan kebenaran, dan tak kalah pentingnya dengan adanya aliran-aliran ini, para ahli dapat saling melengkapi antara yang satu dengan yang lain. Untuk lebih memahami aliran tersebut berikut akan penulis sajikan beberapa aliran dalam ilmu psikologi:

1.       Aliran Psikoanalisis
Aliran ini pertama kali muncul pada sekitar abad 19, yang dipelopori oleh Sigmund Freud (1856-1939) ketika dia sedang menangani seorang pasien Neorotik atau pasien yang mempunyai ciri mudah cemas, disebabkan oleh konplik yang terjadi pada saat seoarng masih amat kecil, kemudian direpresi/ditekan (didorong masuk dari kesadaran ke alam tak sadar) seorang tokoh yang mungkin lebih tepat dikatakan sebgai pencetus psikodinamik. Namun demikian konsep pemikirannya tentang ketidak sadaran telah banyak meng-ilhami para ahli psikologi Analisis yang hidup setelahnya. Freud adalah seoarang psikiatris yang menaruh perhatian besar pada pengertian dan pengobatan gangguan mental. ia sedikit sekali menaruh minat terhadap problem-problem tradisional Psikologi Akademis seperti; Sensasi, Persepsi, Berfikir dan Kecerdasan karena itu ia mengabaikan problem kecerdasan dan mengrahkan usahanya untuk memahami dan menerangkan apa yang diistilahkannya sebagai ketidak sadaran.
Teori yang dicetuskan oleh Freud tentang kepribadian, mencoba menjelaskan tentang Normaliats dan Abnormalitas psikolgis dan perawatan terhadap orang-orang yang tidak normal Menurrut teori ini sumber utama konflik dan gangguan mental terletak pada ketidak sadaran, karena itu untuk mempelajari gejala-gejala ini, Freud mengembangkan teori Psikoanalisis yang sebagian besar di dasarkan pada interpretasi “arus pikiran pasien yang diasosiasikan secara bebas” dan analisis mimpi.

Dalam pandangan Freud, semua perilaku manusia baik yang nampak (gerakan otot) maupun yang tersembunyi (pikiran) adalah disebabkan oleh peristiwa mental sebelumnya. Terdapat peristiwa mental yang kita sadari dan tidak kita sadari namun bisa kita akses (preconscious) dan ada yang sulit kita bawa ke alam tidak sadar (unconscious). Di alam tidak sadar inilah tinggal dua struktur mental yang ibarat gunung es dari kepribadian kita, yaitu:

a.    Id, adalah berisi energi psikis, yang hanya memikirkan kesenangan semata.
b.    Superego, adalah berisi kaidah moral dan nilai-nilai sosial yang diserap individu dari lingkungannya.
c.    Ego, adalah pengawas realitas.
Sebagai contoh:
Pada suatu ketika dijalan Anda menemukan Dompet dimana dompet tersebut berisi sejumlah uang yang tidak sedikit,ada kartu identitas pemilik,kartu penting seperti kartu kredit(ATM) dan pada waktu itu Anda sedang membutuhkan biaya untuk membayar SPP yang sudah nunggak selama 2bulan. Id mengatakan pada Anda: “Ambil saja dompet itu, toh tak ada yang tahu, lumayan bisa buat bayar SPP!”. Sedangkan ego berkata:”Lihat dulu, jangan-jangan nanti ada yang tahu!”. Sementara superego menegur:”Jangan lakukan, itu bukan hak kamu!”.

Pada masa kanak-kanak,kita dikendalikan sepenuhnya oleh id, dan pada tahap ini oleh Freud disebut sebagai primary process thinking. Anak-anak akan mencari pengganti jika tidak menemukan yang dapat memuaskan kebutuhannya (bayi akan mengisap jempolnya jika tidak mendapat dot misalnya).
Sedangkan ego akan lebih berkembang pada masa kanak-kanak yang lebih tua dan pada orang dewasa. Di sini disebut sebagai tahap secondary process thinking. Manusia sudah dapat menangguhkan pemuasan keinginannya (sikap untuk memilih tidak jajan demi ingin menabung). Walau begitu kadangkala pada orang dewasa muncul sikap seperti primary process thnking, yaitu mencari pengganti pemuas keinginan (menendang tong sampah karena merasa jengkel mendapat nilai jelek).
Proses pertama adalah apa yang dinamakan EQ (emotional quotient), sedangkan proses kedua adalah IQ (intelligence quotient) dan proses ketiga adalah SQ (spiritual quotient).
Keberhasilah seseorang ditentukan pada ke-3 tingkat kecerdasan tersebut,karena dalam hidup tidak cukup dengan Kecerdasan Intelektual saja tetapi harus diseimbangkan dengan Kecerdasan Emosionalnya dan Kecerdasan Spiritualnya.

2.      Aliran Psikologi Gestalt (Gestalt Psychology)
Kata “Gesalt” berasal dari bahasa Jerman yang dalam bahasa Inggris berarti shape atau bentuk. Karena tidak ditemukan arti yang sesuai maka gesalt tetap dipakai. Tokoh psikologi ini adalah Max Wertheimer (1880-1943). Yang berpendapat bahwa dalam alat kejiwaan tidak terdapat jumlah unsur-unsurnya melainkan Gestalt (keseluruhan) dan tiap-tiap bagian tidak berarti dan bisa mempunyai arti kalau bersatu dalam hubungan kesatuan.
Psikologi Gestalt merupakan salah satu aliran psikologi yang mempelajari suatu gejala sebagai suatu keseluruhan atau totalitas, data-data dalam psikologi Gestalt disebut sebagai phenomena (gejala). Phenomena adalah data yang paling dasar dalam Psikologi Gestalt. Dalam hal ini Psikologi Gestalt sependapat dengan filsafat phenomonologi yang mengatakan bahwa suatu pengalaman harus dilihat secara netral. Dalam suatu phenomena terdapat dua unsur yaitu obyek dan arti. Obyek merupakan sesuatu yang dapat dideskripsikan, setelah tertangkap oleh indera, obyek tersebut menjadi suatu informasi dan sekaligus kita telah memberikan arti pada obyek itu.
Bagi para ahli yang mengikuti aliran gestalt, perkembangan itu adalah proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi yang primer adalah keseluruhan, sedangkan bagian-bagian adalah sekunder; yaitu bagian-bagian yang hanya mempunyai arti sebagai bagian daripada keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lain, keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul oleh bagian-bagiannya.
Gestalt adalah keseluruhan yang diorganisasikan secara tersusun. Keseluruhan ini adalah lebih dari jumlah bagian-bagian, ia memperlihatkan sifat-sifat yang terdapat pada elemen-elemen. Keseluruhan memberi arti pada bagian-bagian, yaitu tiap-tiap anggota (bagian) didukung oleh keseluruhan dan baru memperoleh artinya dalam keseluruhan tersebut.

3.     Aliran Behaviorisme (Behaviorism)
Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh
John B. Watson tahun 1913 dan digerakkan oleh Burrhus Frederic Skinner.Aliran ini sering dikaitkan sebagai aliran ilmu jiwa namun tidak peduli pada jiwa. Pada akhir abad ke-19, Ivan Petrovic Pavlov memulai eksperimen psikologi yang mencapai puncaknya pada tahun 1940 - 1950-an. Di sini psikologi didefinisikan sebagai sains dan sementara sains hanya berhubungan dengan sesuatu yang dapat dilihat dan diamati saja.
Sedangkan ‘jiwa’ tidak bisa diamati, maka tidak digolongkan ke dalam psikologi. Aliran ini memandang manusia sebagai mesin (homo mechanicus) yang dapat dikendalikan perilakunya melalui suatu pelaziman (conditioning). Sikap yang diinginkan dilatih terus-menerus sehingga menimbulkan maladaptive behaviour atau perilaku menyimpang. Salah satu contoh adalah ketika Pavlov melakukan eksperimen terhadap seekor anjing. Di depan anjing eksperimennya yang lapar, Pavlov menyalakan lampu. Anjing tersebut tidak mengeluarkan air liurnya. Kemudian sepotong daging ditaruh dihadapannya dan anjing tersebut terbit air liurnya. Selanjutnya begitu terus setiap kali lampu dinyalakan maka daging disajikan. Begitu hingga beberapa kali percobaan, sehingga setiap kali lampu dinyalakan maka anjing tersebut terbit air liurnya meski daging tidak disajikan. Dalam hal ini air liur anjing menjadi conditioned response dan cahaya lampu menjadi conditioned stimulus.
Percobaan yang hampir sama dilakukan terhadap seorang anak berumur 11 bulan dengan seekor tikus putih. Setiap kali si anak akan memegang tikus putih maka dipukullah sebatang besi dengan sangat keras sehingga membuat si anak kaget. Begitu percobaan ini diulang terus menerus sehingga pada taraf tertentu maka si anak akan menangis begitu hanya melihat tikus putih tersebut. Bahkan setelah itu dia menjadi takut dengan segala sesuatu yang berbulu: kelinci, anjing, baju berbulu dan topeng Sinterklas. Ini yang dinamakan pelaziman dan untuk mengobatinya kita bisa melakukan apa yang disebut sebagai kontrapelaziman (counterconditioning).

4.     Aliran Strukturalisme (Structuralism)
Tokoh psikologi Strukturalisme adalah Wilhelm Wundt. Yang mulai berkembang pada abad ke-19 yaitu pada awal berdirinya psikologi sebagai suatu disiplin ilmu yang mandiri. Menurut Wundt untuk mempelajari gejala-gejala kejiwaaan kita harus mempelajari isi dan struktur jiwa seseorang. Metode yang digunakan adalah instrospeksi / Elemen mawas diri. Obyek yang dipelajari dalam psikologi ini adalah Kesadaran.
Mental/elemen-elemen yang kecil yaitu jiwa, kesadaran, dan penginderaan (penangkapan terhadap rangsang yang dating dari luar dan dapat dianalisa sampai elemen-elemen yang terkecil).Perasaaan sesuatu yang dimiliki dalam diri kita, tidak terlalu di pengaruh rangsangan dari luar.
Tokoh strukturalisme lain adalah Edward Bradford Titchener. Titchener merupakan orang Inggris yang mewakili pandangan-pandangan psikologi Jerman (Wundt) di Amerika Serikat. Ia adalah murid dari Wundt dan ia menerjemahkan beberapa buku Wundt dalam bahasa Inggris.

5.      Psikologi Humanistis
Aliran ini muncul akibat reaksi atas aliran behaviourisme dan psikoanalisis. Kedua aliran ini dianggap merendahkan manusia menjadi sekelas mesin atau makhluk yang rendah.
Salah satu tokoh dari aliran ini – Abraham Maslow – mengkritik Freud dengan mengatakan bahwa Freud hanya meneliti mengapa setengah jiwa itu sakit, bukannya meneliti mengapa setengah jiwa yang lainnya bisa tetap sehat.
Adalah Viktor Frankl yang mengembangkan teknik psikoterapi yang disebut sebagai logotherapy (logos = makna). Pandangan ini berprinsip:
a)     Hidup memiliki makna, bahkan dalam situasi yang paling menyedihkan sekalipun.
b)     Tujuan hidup kita yang utama adalah mencari makna dari kehidupan kita itu sendiri.
c)     Kita memiliki kebebasan untuk memaknai apa yang kita lakukan dan apa yang kita alami bahkan dalam menghadapi kesengsaraan sekalipun.
Frankl mengembangkan teknik ini berdasarkan pengalamannya lolos dari kamp konsentrasi Nazi pada masa Perang Dunia II, di mana dia
mengalami dan menyaksikan penyiksaan-penyiksaan di kamp tersebut. Dia menyaksikan dua hal yang berbeda, yaitu para tahanan yang putus asa dan para tahanan yang memiliki kesabaran luar biasa serta daya hidup yang perkasa. Frankl menyebut hal ini sebagai kebebasan seseorang memberi makna pada hidupnya.
Logoterapi ini sangat erat kaitannya dengan SQ tadi, yang bisa kita kelompokkan berdasarkan situasi-situasi berikut ini:
1)       Ketika seseorang menemukan dirinya (self-discovery). Sa’di (seorang penyair besar dari Iran) menggerutu karena kehilangan sepasang sepatunya di sebuah masjid di Damaskus. Namun di tengah kejengkelannya itu ia melihat bahwa ada seorang penceramah yang berbicara dengan senyum gembira. Kemudian tampaklah olehnya bahwa penceramah tersebut tidak memiliki sepasang kaki. Maka tiba-tiba ia disadarkan, bahwa mengapa ia sedih kehilangan sepatunya sementara ada orang yang masih bisa tersenyum walau kehilangan kedua kakinya.
2)     Makna muncul ketika seseorang menentukan pilihan. Hidup menjadi tanpa makna ketika seseorang tak dapat memilih. Sebagai contoh: seseorang yang mendapatkan tawaran kerja bagus, dengan gaji besar dan kedudukan tinggi, namun ia harus pindah dari Yogyakarta menuju Singapura. Di satu sisi ia mendapatkan kelimpahan materi namun di sisi lainnya ia kehilangan waktu untuk berkumpul dengan anak-anak dan istrinya. Dia menginginkan pekerjaan itu namun sekaligus punya waktu untuk keluarganya. Hingga akhirnya dia putuskan untuk mundur dari pekerjaan itu dan memilih memiliki waktu luang bersama keluarganya. Pada saat itulah ia merasakan kembali makna hidupnya.
3)     Ketika seseorang merasa istimewa, unik dan tak tergantikan. Misalnya: seorang rakyat jelata tiba-tiba dikunjungi oleh presiden langsung di rumahnya. Ia merasakan suatu makna yang luar biasa dalam kehidupannya dan tak akan tergantikan oleh apapun. Demikian juga ketika kita menemukan seseorang yang mampu mendengarkan kita dengan penuh perhatian, dengan begitu hidup kita menjadi bermakna.
4)    Ketika kita dihadapkan pada sikap bertanggung jawab. Seperti contoh di atas, seorang bendahara yang diserahi pengelolaan uang tunai dalam jumlah sangat besar dan berhasil menolak keinginannya sendiri untuk memakai sebagian uang itu untuk memuaskan keinginannya semata. Pada saat itu si bendahara mengalami makna yang luar biasa dalam hidupnya.
5)     Ketika kita mengalami situasi transendensi (pengalaman yang membawa kita ke luar dunia fisik, ke luar suka dan duka kita, ke luar dari diri kita sekarang). Transendensi adalah pengalaman spiritual yang memberi makna pada kehidupan kita.

6.     Aliran Fungsionalisme
Fungsionalisme adalah orientasi dalam psikologi yang menekankan pada proses mental dan menghargai manfaat psikologi serta mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya.
Fungsionalisme memandang bahwa pikiran, proses mental, persepsi indrawi, dan emosi adalah adaptasi organisme biologis. Fungsionalisme lebih menekankan pada fungsifungsi dan bukan hanya fakta-fakta dari fenomena mental, atau berusaha menafsirkan fenomena mental dalam kaitan dengan peranan yang dimainkannya dalam kehidupan.
Aliran fungsionalisme merupakan aliran psikologi yang pernah sangat dominan pada masanya, dan merupakan hal penting yang patut dibahas dalam mempelajari psikologi. Pendekatan fungsionalisme berlawanan dengan pendahulunya, yaitu strukturalisme. Aliran fungsionalisme juga keluar dari pragmatism sebagai sebuah filsafat. Aliran fungsionalisme berbeda dengan psikoanalisa, maupun psikologi analytis, yang berpusat kepada seorang tokoh. Fungsionalisme memiliki macam-macam tokoh antara lain Willian James, John Dewey, J.R.Anggell dan James Mc.Keen Cattell .
Aliran dalam Fungsionalisme
Fungsionalisme mempunyai 2 (dua) aliran, namun pendiri fungsionalisme itu sendiri adalah :
1. Aliran Fungsionalisme Chicago
Terdapat banyak tokoh Fungsionalisme di Universitas Chicago sehingga dapat dikatakan menjadi aliran tersendiri yang disebut Fungsionalisme Chicago.
a)      John Dewey (1859-1952)
Pada tahun 1886 menulis buku yang berjudul “Psychology” dan dalam
bukunya ini beliau mengenalkan cara orang Amerika belajar ppsikologi
yaitu melalui cara pragmatisme. Sarjana-sarjana di Amerika kurang tertarik
dengan pertanyaan “Apakah jiwa itu?” tetapi lebih tertarik pada pertanyaan “Apakah kegunaan jiwa?” John Dewey juga menganjurkan metode yang Ia sebut dengan Learning by doing (belajar sambil melakukan) Dewey berpendapat bahwa segala pemikiran dan perbuatan harus selalu mempunyai tujuan, oleh karena alasan itulah ia menentang teori elementarisme.

b. James Rowland Angell
James memiliki tiga pandangan terhadap fungsionalisme, yaitu:
§  Fungsionalisme adalah psikologi tentang “mental operation” (aktivitas bekerjanya jiwa) sebagai lawan dari psikologi tentang elemen-elemen mental,
§  Fungsionalisme adalah psikologi tentang kegunaan dasar-dasar kesadaran. Ini juga disebut sebagai teori emergensi dari kesadaran,
§  Fungsionalisme adalah psiko-phisik, yaiitu psikologi tentang keseluruhan organisme yang terdiri dari badan dan jiwa.

2. Aliran Fungsionalisme Columbia
Selain di Chhicago, Fungsionalisme juga mempunyai banyak tokoh di Teachers College Columbia yang disebut aliran Columbia. Ciri aliran ini adalah kebebasannya meneliti tingkah laku yang dianggap sebagai kesatuan
yang tak dapat dipisahkan dan psikologi tak perlu ersifat deskriptif karena yang penting adalah korelasi tingkah laku dengan tingkah laku lain.

7.      . Transpersonal
a.   Pengertian Transpersonal
Transpersonal berasal dari kata trans dan personal. Trans yang berarti melewati dan personal yang berarti pribadi atau psikis. Psikologi transpersonal memfokuskan diri pada bentuk-bentuk kesadaran manusia, khususnya taraf kesadaran ASCs (Altered States of Consciosness).
Dua unsur penting aliran transpersonal adalah potensi luhur seperti keruhanian, pengalaman mistik dan lain sebagainya. Unsur penting yang kedua adalah corak kesadaran yaitu memasuki alam kebatinan, pengalih dimensi meditasi.

c.    Tokoh – Tokoh Aliran Transpersonal
 Psikologi transpersonal dikembangkan pertama kali oleh para ahli yang sebelumnya mengkaji secara mendalam bidang humanistik seperti Abraham Maslow, C.G. Jung, Victor Frankl, Antony Sutich, Charles Tart dan lainnya. Dengan melihat dari para tokoh awalnya maka dapat diketahui bahwa psikologi transpersonal merupakan turunan langsung dari psikologi humanistik. Yang membedakan antara psikologi humanistik dan psikologi transpersonal adalah di dalam psikologi transpersonal lebih menggali kemampuan manusia dalam dunia spiritual, pengalaman puncak, dan mistisme yang dialami manusia. Beberapa kalangan berpendapat bahwa bidang spiritualitas dan kebatinan hanya didominasi oleh para ahli-ahli agama dan juga praktisi mistisme, namun ternyata dalam perkembangannya, kesadaran akan hal ini dapat diaplikasikan dan dibahas dalam ilmu pasti.
Secara garis besar seperti yang dikemukakan oleh Lajoie dan Shapiro dalam Journal of Transpersonal Psychology didefinisikan psikologi transpersonal sebagai studi mengenai potensi tertinggi dari manusia melalui pengenalan, pemahaman dan realisasi terhadap keesaan, spiritualitas dan kesadaran-transendental. Psikologi transpersonal juga melepaskan diri dari keterikatan berbagai bentuk agama yang ada. Namun walau demikian dalam penelitiannya psikologi transpersonal mengkaji pengalaman spiritual yang dialami oleh para ahli spiritual yang berasal dari berbagai macam agama sebagai subjek penelitiannya.



BAB III
PENUTUPAN

Kesimpulan
Dari pemaparan diatas dapat penulis simpulkan bahwa, psikologi sebagai suatu disiplin ilmu dari tahun ketahun semakin menampakkan kapasitasnya, terutama konstribusinya dalam menyikapi kejiwaan seseorang. Psikologi juga merupakan gagasan-gagasan mengenai sesuatu yang menyangkut tentang tingkah laku manusia dan lingkungan sekitarnya melalui pengalaman-pengalaman yang dialami.
Wilhelm Wundt, orang pertama yang memproklamirkan psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu sekaligus orang pertama kali mencetuskan Ilmu  Psikologi dan laboratorium lepzig jerman. Wundt mendeklarasikan sebuah disiplin formal yakni psikologi yang didasarkan pada formulasi-formulasi ilmiah sehingga psikologi diakui sebagai ilmu pengetahuan.
Aliran-aliran psikologi dalam menyikapi kejiwaan seseorang cenderung berbeda. aliran psikoanlisis menyatakan dalam jiwa seseorang terdapat Id, Ego, dan Superego, dan lebih memfokuskan pada ketidak sadaran seseorang Lain lagi dengan aliran Gestalt yang menyatakan bahwa, persepsi manusia terjadi secara menyeluruh bukan spotong-sepotong atau parsial. Sedangkan behaviorisme menyatakan bahwa psikologi hanya memusatkan perhatian pada apa yang dilakuakn oleh orang lain. Dan untuk aliran humanistik menyatakan bahwa untuk memahami perilaku seseorang terletak pada sipelaku bukan sipengamat Saran-saran.









Hubungan komunikasi dengan kehumasan

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk sosial (zoon politicon). Manusia hanya dapat hidup, berkembang, dan memenuhi kebutuhannya dengan berhubungan dan bekerja sama dengan manusia lain.
Satu-satunya sarana untuk berhubungan dan bekerja sama dengan manusia lainnya adalah komunikasi, baik secara verbal maupun non vebal. Dengan berkomunikasi, maka akan terjadi hubungan sosial antara individu yang satu dengan individu lainnya.
Komunikasi memiliki hubungan yang sangat erat dengan kehumasan dan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Kehumasan (humas) bertujuan untuk menciptakan komunikasi dua arah atau timbal-balik, memecahkan konflik kepentingan, dan menciptakan pengertian berdasarkan kebenaran, pengetahuan, dan informasi yang lengkap. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa humas merupakan suatu proses komunikasi, namun tidak semua proses komunikasi adalah humas.

B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka masalahnya dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.    Apa pengertian Komunikasi?
2.    Apa pengertian Kehumasan?
3.    Bagaimana hubungan Komunikasi dan Kehumasan?

BAB II
PEMBAHASAN
A.   Pengertian Komunikasi
Kata komunikasi berasal dari kata latin cum yaitu kata depan yang berarti dengan, bersama dengan, dan unus yaitu kata bilangan yang berarti satu. Dari kedua kata itu terbentuk kata benda communion yang dalam bahasa Inggris menjadi communion dan berarti kebersamaan, persatuan, persekutuan, gabungan, pergaulan, hubungan. Karena untuk ber-communio diperlukan usaha dan kerja, dari kata itu dibuat kata kerja communicare yang berarti membagi sesuatu dengan seseorang, memberikan sebagian kepada seseorang, tukar-menukar, membicarakan sesuatu dengan seseorang, memberitahukan sesuatu kepada seseorang, bercakap-cakap, bertukar pikiran, berhubungan, berteman. Kata kerja communicare itu pada akhirnya dijadikan kata kerja benda communicatio, atau bahasa Inggris communication dan dalam bahasa Indonesia diserap menjadi komunikasi.
Berdasarkan beberapa arti kata communicare yang menjadi asal kata komunikasi, maka secara etiomologi komunikasi berarti pertukaran pikiran, pembicaraan, atau hubungan.
Komunikasi diawali dengan adanya pesan dari seseorang (pengirim). Pesan itu dikirimkan melalui media tertentu kepada orang lain (penerima). Setelah pesan diterima dan dipahami oleh penerima, maka penerima dapat memberikan tanggapan (umpan balik) kepada pengirim. Dengan tanggapan  penerima pesan tersebut, pengirim dapat mengetahui efektifitas pesan yang dikirimnya.
Dari proses komunikasi tersebut, komunikasi dapat diartikan sebagai suatu proses pengiriman pesan dari komunikator (pengirim) kepada komunikan (penerima) melalui media tertentu dengan mengharapkan umpan balik untuk menghasilkan efek.

a.     Definisi Komunikasi menurut beberapa pakar      
Adapun beberapa definisi komunikasi dari beberapa pakar, sebagai berikut:
1.    Laswell, menyatakan bahwa komunikasi adalah proses yang menggambarkan siapa mengatakan apa, dengan cara apa, kepada siapa, dengan efek apa.
2.    Carl L. Hovland, menyatakan bahwa komunikasi adalah proses di mana seseorang individu atau komunikator mengoperkan stimulant biasanya dengan lambang-lambang bahasa (verbal maupun nonverbal) untuk mengubah tingkah laku orang lain.
3.    Theodorson dan Thedorson, menyatakan bahwa komunikasi adalah penyebaran informasi, ide-ide sebagai sikap atau emosi dari seseorang kepada orang lain terutama melalui simbol-simbol.
4.    Edwin Emery, menyatakan bahwa komunikasi adalah seni menyampaikan informasi, ide-ide dan sikap seseorang kepada orang lain.
5.    Deltont E, Mc Farland, menyatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses interaksi yang mempunyai arti antara sesama manusia.
Komunikasi merupakan sarana untuk terjalinnya hubungan antar seseorang dengan orang lain. Dengan adanya komunikasi maka terjadilah hubungan sosial, karena memang pada dasarnya manusia sebagai makhluk sosial, antara yang satu dengan yang lainnya saling membutuhkan, sehingga terjadinya interaksi yang timbal balik.
Secara umum komunikasi dapat digambarkan bahwa: dalam kehidupan sosial, proses komunikasi tidak pernah berhenti sejak dari bangun tidur sampai tidur kembali. Komunikasi senantiasa hadir dalam setiap sendi kehidupan manusia. Hal tersebut dapat dilihat bahwa setiap hari manusia mengadakan komunikasi, dengan ibu, bapak, saudara, dengan kawan atau dengan siapa saja, bahkan dengan diri sendiri (komunikasi intra personal). Komunikasi yang dilakukan oleh manusia bisa secara sadar maupun tidak sadar di manapun, kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun.

B.   Pengertian Kehumasan
Kata kehumasan berasal dari akar kata humas yang merupakan singkatan dari hubungan masyarakat. Hubungan masyarakat (humas) merupakan terjemahan dari istilah public relations.
Public Relations merupakan lapangan baru di bidang komunikasi yang tumbuh dan berkembang pesat pada permulaan dekade ke-20 ini. Perkembangannya berkaitan erat dengan kemajuan masyarakat di berbagai bidang, terutama di bidang industry, bisnis, perusahaan, bahkan akhir-akhir ini juga berkembang pesat di bidang politik dan pemerintahan. Lahirnya public relations seperti yang dipraktekkan sekarang, bertolak dari adanya kemajuan di berbagai bidang, yang membutuhkan jasa-jasa public relations.

Namun, Menurut para pakar, hingga kini belum terdapat konsensus mutlak tentang definisi humas (public relations). Hal ini disebabkan oleh: pertama, beragamnya definisi public relations yang telah dirumuskan baik oleh para pakar maupun profesional humas yang didasari perbedaan sudut pandang mereka terhadap pengertian humas. Kedua, perbedaan latar belakang, misalnya definisi yang dilontarkan oleh kalangan akademisi perguruan tinggi akan lain bunyinya dengan apa yang diungkapkan oleh kalangan praktisi (public relations practitioner). Dan ketiga, adanya indikasi baik teoritis maupun praktis bahwa kegiatan kehumasan bersifat dinamis dan fleksibel terhadap perkembangan dinamika kehidupan masyarakat yang mengikuti kemajuan zaman.
Sam Black dan Melvin L. Sharpe menyatakan, kesulitan yang dialami profesi humas untuk merumuskan definisi yang dapat diterima oleh semua praktisi, disebabkan karena demikian kompleks dan beragamnya unsur profesi humas. Profesi ini terdiri atas banyak unsur keahlian khusus. Keahlian ini meliputi keahlian profesional, dari yang harus dimiliki oleh para pemula dan tingkat menengah di bidang humas dan penerbitan sampai tingkat konsultasi manajemen.
Menurut Oemi Atiyah, humas adalah sebuah unit yang mempunyai tugas untuk membangun kerja sama, saling pengertian, saling menghargai dengan komunikasi dua arah. Humas merupakan fungsi manajemen yang membentuk dan mengelola hubungan saling menguntungkan antar organisasi dan masyarakat. Keberhasilan ini bergantung pada fungsinya.
a.     Definisi Humas menurut beberapa pakar
Adapun definisi humas menurut para pakar, antara lain sebagai berikut:
1.    J.C. Sendel, menyatakan bahwa humas adalah proses kontinu dari usaha-usaha manajemen untuk memperoleh goodwill dan pengertian dari para langganannya, pegawai dan publik umumnya, ke dalam dengan mengadakan analisis dan perbaikan-perbaikan diri sendiri, keluar dengan mengadakan pernyataan-pernyataan.
2.    W. Emerson Reck, menyatakan bahwa humas adalah kelanjutan dari proses penetapan kebijaksanaan, penentuan pelayanan-pelayanan dan sikap yang disesuaikan dengan kepentingan orang-orang atau golongan agar orang atau lembaga itu memperoleh kepercayaan dan goodwill dari mereka. Pelaksanaan kebijaksanaan pelayanan dan sikap adalah untuk menjamin adanya pengertian dan penghargaan yang sebaik-baiknya.
3.    Horward Bonham, menyatakan  bahwa humas adalah suatu seni untuk menciptakan pengertian publik yang lebih baik, yang dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap seseorang atau sesuatu badan.
Dari beberapa definisi yang dikemukakan sebelumnya, maka secara singkatnya humas dapat diartikan sebagai suatu kontak atau hubungan yang diadakan oleh suatu organisasi atau perusahaan dengan publik, baik publik internal maupun eksternal.
b.     Kode Etik Humas
Bagian humas dapat dikatakan sebagai jantung etis dari sebuah organisasi. Karena humas adalah pengendali komunikasi internal maupun eksternal, humas juga mengatasi krisis organisasi.. Namun, banyak pula kalangan yang menganggap humas sebagai pekerjaan yang kurang terhormat, karena humas bisa membuat sesuatu yang salah menjadi benar.. Mayarakat menganggap humas lebih sering mengurus kebenaran dari pada menyampaikan kebenaran.
Persepsi yang berkembang seperti itulah yang mendorong perlunya para praktisi humas membuat sebuah kode etik profesi yang menekankan kejujuran diatas segalanya. Dengan adanya kode etik, maka profesi humas akan secara terbuka dapat dinilai oleh masyarakat sehingga para profesionalnya bisa mempertanggungj jawabkan apa yang telah dikerjakannya.
Bagian ini akan mengajak kita memahami bagaimana isu-isu etika melingkupi dunia humas dan juga akan disajikan lampiran Kode Etik Profesi Humas.
·         Etika
Etika berbeda dengan moral. Menurut Ruslan (1995), moral adalah suatu system nilai tentang bagaimana menjalankan hidup dengan membedakan antara yang baik dengan yang buruk selaku individu dan anggota masyarakat. Sistem nilai-nilai moral tersebut secara garis besar acuannya adalah nilai universal menghenai baik dan buruk, yang biasanya dikaitkan dengan nilai kesusilaan (kebaikan), tradisi atau adapt istiadat yang berlaku, keagamaan, kependidikan, dan lain sebagainya. Kraf (1991) menyebut moralitas adalah tradisi kepercayaan dalam agama atau kebudayaan tentang perilaku yang baik dan buruk. Moralitas memberikan suatu petunjuk dalam bentuk bagaimana seharusnya beritndak (das sollen).
Sementara etika lebih banyak menyinggung nilai-nilai atau norma-norma moral yang bersifat menentukan atau sebagai pedoman sikap tindak atau perilaku dalam wujud yang lebih konkrit (das sein).\Terdapat dua macam etika (Ruslan, 1995):
1.         Etika deskriptif. Etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan pola perilaku manusia serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai. Artinya etika deskripstif tersebut berbicara mengenai fakta secara apa adanya, yakni mengenai nilai dan pola perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas konkrit yang membudaya. Dapat disimpulkan bahwa tentang kenyataan dalam penghayatan nilai atau tanpa niali dalam suatu masyarakat yang dikaitkan dengan kondisi tertentu memungkinkan manusia bertindak secara etis.
2.         Etika normatif. Yaitu etika yang menetapkan berbagai sikap dan pola perilaku yang ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini (Keraf, 1991). Oleh karena itu etika normative merupakan norma-norma yang dapat menuntun dan menghimbau manusia agar bertindak secara baik dan menghindarkan hal yang buruk, sesuai dengan kaidah atau norma yang berlaku di masyarakat.

C.    Hubungan Komunikasi dengan Kehumasan
Pada dasarnya, berbicara masalah hubungan komunikasi dengan kehumasan, sama halnya ketika berbicara masalah hubungan komunikasi dengan dakwah. Menurut Bapak Arifuddin Tike, dakwah merupakan suatu proses komunikasi, namun tidak semua proses komunikasi merupakan proses dakwah. Demikian pula dengan kehumasan (humas). Humas merupakan suatu proses komunikasi, namun belum tentu proses komunikasi merupakan suatu proses kehumasan.
Sebagaimana yang telah dikemukakan pada bab pendahuluan, bahwa tujuan penyelenggaraan hubungan masyarakat (humas) di antaranya adalah menciptakan komunikasi dua arah dan membentuk pengertian berdasarkan kebenaran, pengetahuan, dan informasi yang lengkap. Maka kegiatan kehumasan pada hakikatnya adalah kegiatan komunikasi, namun berbeda dengan kegiatan komunikasi lainnya. Kegiatan komunikasi dalam kehumasan mempunyai ciri-ciri tertentu. Ciri-ciri tersebut antara lain sebagai berikut:
1.    Komunikasi dalam kegiatan humas berlangsung dua arah (timbal-balik).
2.    Kegiatan yang dilakukan terdiri atas penyebaran informasi, penggiatan persuasif, dan pengkajian pendapat umum.
3.    Tujuan yang hendak dicapai adalah tujaun perusahaan/ organisasi tempat humas berada;
4.    Sasaran yang dituju adalah khalayak internal dan khalayak eksternal;
5.    Efek yang diharapkan  adalah terbiananya hubungan yang harmonis antara perusahaan dan khalayak.
Kehumasan senantiasa berkenaan dengan kegiatan penciptaan pemahaman melalui pengetahuan, dan melalui kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan akan muncul suatu  dampak, yakni berupa perubahan yang positif. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kunci sukses humas adalah melalui komunikasi. Artinya, keberhasilan humas untuk mencapai tujuannya bergantung kepada sejauh mana humas itu dapat menjalin hubungan yang baik dengan masyarakatnya, baik khalayak internal maupun eksternal.
Misi yang diemban oleh humas yakni memberikan pelayanan informasi kepada masyarakat tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan kebijaksanaan, kegiatan dan tindakan organisasi/ perusahaan. Pelayanan informasi tersebut hanya dapat dilaksanakan melalui komunikasi.
Dalam pengertian teoritis, hubungan masyarakat merupakan bagian integral dari suatu kelembagaan dan bukan suatu fungsi atau bagian yang berdiri sendiri. Hubungan masyarakat adalah penyelenggara komunikasi timbale-balik antara suatu lembaga tersebut. Dari pihak suatu lembaga, komunikasi seperti ini diajukan untuk menciptakan saling pengertian dan dukungan bagi terciptanya tujuan, kebijakan dan tindakan lembaga tersebut. Dengan kata lain, Hubungan masyarakat berfungsi menumbuhkan hubungan baik antara segenap komponen pada suatu lembaga dalam rangka memberikan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi. Semua ini bertujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan penengertian dan kemauan baik (good will) publiknya serta memperoleh opini public yang menguntungkan (atau untuk menciptakan kerja sama berdasarkan hubungan yang baik dengan public).
Kunci sukses suatu komunikasi, dalam hal ini komunikasi dalam hubungan masyarakat, sangat tergantung pada pelaksanaan komunikasi yang efektif. Dalam kaitan dengan prinsip komunikasi yang efektif, hal-hal yang diperhatikan adalah :
1.         jenis publik (khalayak) yang menjadi sasaran
2.         susunan pesan bagaimana yang paling tepat dan mudah dipahami
3.         saluran apa yang paling sesuai dengan sifat public yang dituju
Demi efektifnya komunikasi, maka pengetahuan secara terperinci tentang public yang dituju sangat penting. Ini berarti, sifat dan ciri public yang dituju didalam kegiatan hubungan masyarakat haruslah diketahui. 
“The more carefully oer difine various publics, the more ways of reaching and influencing them one will discover” (semakin teliti orang menentukan khalayak yang dituju, semakin banyak diemukan cara-cara untuk mendekati dan mempengaruhinya).
Karena itu meskipun penelitian mengenai khalayak (audience research) cukup mahal biayanya, tapi itu harus dilakukan demi diperolehnya cara dan teknik untuk mempengaruhinya.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pembahasan sebelumnya, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1.    Komunikasi adalah suatu proses pengiriman pesan dari komunikator (pengirim) kepada komunikan (penerima) melalui media tertentu dengan mengharapkan umpan balik untuk menghasilkan efek.
2.    Kehumasan (humas) adalah suatu kontak atau hubungan yang diadakan oleh suatu organisasi atau perusahaan dengan publik, baik publik internal maupun eksternal. Kehumasan merupakan suatu proses komunikasi dengan ciri khas komunikasi dua arah (timbal-balik).
3.    Hubungan komunikasi dengan kehumasan sama halnya ketika berbicara masalah hubungan komunikasi dengan dakwah. Dakwah merupakan suatu proses komunikasi, namun tidak semua proses komunikasi merupakan proses dakwah. Demikian pula dengan kehumasan (humas). Humas merupakan suatu proses komunikasi, namun belum tentu proses komunikasi merupakan suatu proses kehumasan.


DAFTAR PUSTAKA

Buku Acuan
Atiya, Oemi Atiyah, 2007. "Profesionalisme Kehumasan", Komunika, Vol. 10, No. 1.
Black, Sam., dan L. Sharpe, Melvin. 1988. Practical Public Relations Common-Sense Guidelines for Business and Professional People. Diterjemahkan oleh Ardaneshwari dengan judul: Ilmu Hubungan Masyarakat Praktis. PT Intermasa, Jakarta.
M. Hardjana, Agus. 2003. Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Ruslan, Rosady. 2010. Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi. Rajawali Pers, Jakarta.
Suprapto, Tommy. 2009. Pengantar Teori dan Manajemen Komunikasi. Media Pressindo, Yogyakarta.
Tike, Arifuddin. 2009. Dasar-Dasar Komunikasi. Kota Kembang, Yogyakarta.

Internet
http://blog.elearning.unesa.ac.id/m-saikhul-arif/makalah-komunikasi-dalam-pendidikan
http://teorikuliah.blogspot.com/2009/07/ruang-lingkup-humas.html