BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Psikologi sebagai satu ilmu pengetahuan sudah berdiri sendiri sekitar abad ke
18, dari berbagai tokoh kemudian terbentuk aliran-aliran psikologi dengan
berbagai teorinya masing-masing. Tujuan dari berbagai aliran tersebut tiada
lain hanyalah ingin mengetahui lebih dalam lagi tentang ilmu yang mempelajari
tentang jiwa ini.
Dari masa-kemasa aliran-aliran tersebut semakin meluas dan semakin banyak,
bukan hanya tokohnya, akan tetapi para pengikut dari tokoh-tokoh itu pun
mungkin sudah tak terhitung, untuk mengetahui lebih dalam tentang hal tersebut
maka penulis mencoba untuk memaparkan sebagian dari hal-hal tersebut.
Untuk lebih spesifiknya penulis akan mencoba memaparkan tentang empat aliran
Psikologi yang banyak digunakan oleh sebagian besar tokoh Psikologi modren,
diantaranya; aliran Humanistik, Analisis, Gestalt dan Behavourisme serta teori
yang dikemukakan oleh empat aliran tersebut.
B. Rumusan
Masalah
Dari latar belakang diatas penulis dapat merumuskan beberapa masalah :
1. Siapa yang mencetuskan empat aliran psikologi tersebut diatas?
2. Teori apa saja yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh aliran tersebut?
3. Apa manfaat mempelajari Ilmu Jiwa Umum?
1
c. Tujuan
Penulisan
Setiap sesuatu yang ada didunia ini pasti mempunyai tujuan tersendiri tak
terkecuali makalah ini, yang pastinya juga mempunyai tujuan yang ingin dicapai
oleh penulis, diantaranya adalah:
1. Mengetahui tokoh-tokoh yang mencetuskan empat macam aliran tersebut diatas.
2. Mengetahui teori-teori yang dikemukakan oleh tokoh utama aliran-aliran
tersebut.
3. Mengetahui tahun berdiri aliran-aliran tersebut.
4. Sebagai pengalaman dalam dunia kepenulisan yang dituntut untuk selalu
memberikan asupan terhadap perkembangan kehidupan.
5. Sebagai tugas kelompok untuk memenuhi tugas mata kuliah psikologi umum.
BAB II
PEMBAHASAN
ALIRAN-ALIRAN DAN
MANFAAT PSIKOLOGI
A. Aliran-aliran
Psikologi
Setelah psikologi berdiri sendiri, lambat laun para ahli psikologi
mengembangkan sistematika dan metode-metodenya sendiri, yang berbeda satu
dengan yang lainnya. Dengan demikian timbul apa yang disebut aliran-aliran
dalam psikologi. Sejak zaman dahulu aliran-aliran dalam satu bidang ilmu sangat
penting artinya untuk membina semangat para ahli dalam berkompetisi menemukan
kebenaran, dan tak kalah pentingnya dengan adanya aliran-aliran ini, para ahli
dapat saling melengkapi antara yang satu dengan yang lain. Untuk lebih memahami
aliran tersebut berikut akan penulis sajikan beberapa aliran dalam ilmu
psikologi:
1. Aliran
Psikoanalisis
Aliran ini
pertama kali muncul pada sekitar abad 19, yang dipelopori oleh Sigmund Freud
(1856-1939) ketika dia sedang menangani seorang pasien Neorotik atau pasien
yang mempunyai ciri mudah cemas, disebabkan oleh konplik yang terjadi pada saat
seoarng masih amat kecil, kemudian direpresi/ditekan (didorong masuk dari
kesadaran ke alam tak sadar) seorang tokoh yang mungkin lebih tepat dikatakan
sebgai pencetus psikodinamik. Namun demikian konsep pemikirannya tentang
ketidak sadaran telah banyak meng-ilhami para ahli psikologi Analisis yang
hidup setelahnya. Freud adalah seoarang psikiatris yang menaruh perhatian besar
pada pengertian dan pengobatan gangguan mental. ia sedikit sekali menaruh minat
terhadap problem-problem tradisional Psikologi Akademis seperti; Sensasi,
Persepsi, Berfikir dan Kecerdasan karena itu ia mengabaikan problem kecerdasan
dan mengrahkan usahanya untuk memahami dan menerangkan apa yang diistilahkannya
sebagai ketidak sadaran.
Teori yang dicetuskan oleh Freud tentang kepribadian, mencoba menjelaskan
tentang Normaliats dan Abnormalitas psikolgis dan perawatan terhadap
orang-orang yang tidak normal Menurrut teori ini sumber utama konflik dan
gangguan mental terletak pada ketidak sadaran, karena itu untuk mempelajari
gejala-gejala ini, Freud mengembangkan teori Psikoanalisis yang sebagian besar
di dasarkan pada interpretasi “arus pikiran pasien yang diasosiasikan secara
bebas” dan analisis mimpi.
Dalam pandangan Freud, semua perilaku manusia baik yang nampak (gerakan otot)
maupun yang tersembunyi (pikiran) adalah disebabkan oleh peristiwa mental
sebelumnya. Terdapat peristiwa mental yang kita sadari dan tidak kita sadari
namun bisa kita akses (preconscious) dan
ada yang sulit kita bawa ke alam tidak sadar (unconscious). Di alam tidak
sadar inilah tinggal dua struktur mental yang ibarat gunung es dari kepribadian
kita, yaitu:
a. Id, adalah
berisi energi psikis, yang hanya memikirkan kesenangan semata.
b. Superego,
adalah berisi kaidah moral dan nilai-nilai sosial yang diserap individu dari
lingkungannya.
c. Ego,
adalah pengawas realitas.
Sebagai
contoh:
Pada suatu
ketika dijalan Anda menemukan Dompet dimana dompet tersebut berisi sejumlah
uang yang tidak sedikit,ada kartu identitas pemilik,kartu penting seperti kartu
kredit(ATM) dan pada waktu itu Anda sedang membutuhkan biaya untuk membayar SPP
yang sudah nunggak selama 2bulan. Id mengatakan
pada Anda: “Ambil saja dompet itu, toh tak ada yang tahu, lumayan bisa buat
bayar SPP!”. Sedangkan ego berkata:”Lihat dulu, jangan-jangan
nanti ada yang tahu!”. Sementara superego menegur:”Jangan
lakukan, itu bukan hak kamu!”.
Pada masa kanak-kanak,kita
dikendalikan sepenuhnya oleh id, dan pada tahap ini oleh
Freud disebut sebagai primary
process thinking. Anak-anak akan mencari pengganti jika
tidak menemukan yang dapat memuaskan kebutuhannya (bayi
akan mengisap jempolnya jika tidak mendapat dot misalnya).
Sedangkan ego akan
lebih berkembang pada masa kanak-kanak yang lebih tua dan pada orang dewasa. Di
sini disebut sebagai tahap secondary process thinking.
Manusia sudah dapat menangguhkan pemuasan keinginannya (sikap
untuk memilih tidak jajan demi ingin menabung). Walau
begitu kadangkala pada orang dewasa muncul sikap seperti primary
process thnking, yaitu mencari pengganti pemuas keinginan (menendang
tong sampah karena merasa jengkel mendapat nilai jelek).
Proses pertama
adalah apa yang dinamakan EQ (emotional quotient), sedangkan
proses kedua adalah IQ (intelligence
quotient) dan
proses ketiga adalah SQ (spiritual
quotient).
Keberhasilah
seseorang ditentukan pada ke-3 tingkat kecerdasan tersebut,karena dalam hidup
tidak cukup dengan Kecerdasan Intelektual saja tetapi harus diseimbangkan
dengan Kecerdasan Emosionalnya dan Kecerdasan Spiritualnya.
2. Aliran
Psikologi Gestalt (Gestalt
Psychology)
Kata “Gesalt” berasal
dari bahasa Jerman yang dalam bahasa Inggris berarti shape atau
bentuk. Karena tidak ditemukan arti yang sesuai maka gesalt tetap dipakai.
Tokoh psikologi ini adalah Max Wertheimer (1880-1943). Yang
berpendapat bahwa dalam alat kejiwaan tidak terdapat jumlah unsur-unsurnya
melainkan Gestalt (keseluruhan) dan tiap-tiap bagian tidak berarti dan bisa
mempunyai arti kalau bersatu dalam hubungan kesatuan.
Psikologi Gestalt merupakan salah satu aliran
psikologi yang mempelajari suatu gejala sebagai suatu keseluruhan
atau totalitas, data-data dalam psikologi Gestalt disebut sebagai
phenomena (gejala). Phenomena adalah data yang paling dasar dalam Psikologi Gestalt.
Dalam hal ini Psikologi Gestalt sependapat dengan filsafat phenomonologi yang mengatakan
bahwa suatu pengalaman harus dilihat secara netral. Dalam suatu phenomena
terdapat dua unsur yaitu obyek dan arti. Obyek merupakan sesuatu yang dapat
dideskripsikan, setelah tertangkap oleh indera, obyek tersebut menjadi suatu informasi
dan sekaligus kita telah memberikan arti pada obyek itu.
Bagi para ahli
yang mengikuti aliran gestalt, perkembangan itu adalah proses diferensiasi.
Dalam proses diferensiasi yang primer adalah keseluruhan, sedangkan
bagian-bagian adalah sekunder; yaitu bagian-bagian yang hanya mempunyai arti
sebagai bagian daripada keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan
bagian-bagian yang lain, keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul oleh
bagian-bagiannya.
Gestalt adalah keseluruhan yang diorganisasikan secara tersusun. Keseluruhan
ini adalah lebih dari jumlah bagian-bagian, ia memperlihatkan sifat-sifat yang
terdapat pada elemen-elemen. Keseluruhan memberi arti pada bagian-bagian, yaitu
tiap-tiap anggota (bagian) didukung oleh keseluruhan dan baru memperoleh
artinya dalam keseluruhan tersebut.
3. Aliran
Behaviorisme (Behaviorism)
Behaviorisme
adalah sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh
John B.
Watson tahun 1913 dan
digerakkan oleh Burrhus
Frederic Skinner.Aliran ini sering dikaitkan sebagai aliran ilmu jiwa
namun tidak peduli pada jiwa. Pada akhir abad ke-19, Ivan
Petrovic Pavlov memulai eksperimen psikologi yang
mencapai puncaknya pada tahun 1940 - 1950-an. Di sini psikologi didefinisikan
sebagai sains dan sementara sains hanya berhubungan dengan sesuatu yang dapat
dilihat dan diamati saja.
Sedangkan ‘jiwa’
tidak bisa diamati, maka tidak digolongkan ke dalam psikologi. Aliran ini
memandang manusia sebagai mesin (homo mechanicus) yang
dapat dikendalikan perilakunya melalui suatu pelaziman (conditioning). Sikap
yang diinginkan dilatih terus-menerus sehingga menimbulkan maladaptive
behaviour atau
perilaku menyimpang. Salah satu contoh adalah ketika Pavlov melakukan
eksperimen terhadap seekor anjing. Di depan anjing eksperimennya yang lapar,
Pavlov menyalakan lampu. Anjing tersebut tidak mengeluarkan air liurnya.
Kemudian sepotong daging ditaruh dihadapannya dan anjing tersebut terbit air
liurnya. Selanjutnya begitu terus setiap kali lampu dinyalakan maka daging
disajikan. Begitu hingga beberapa kali percobaan, sehingga setiap kali lampu
dinyalakan maka anjing tersebut terbit air liurnya meski daging tidak
disajikan. Dalam hal ini air liur anjing menjadi conditioned
response dan
cahaya lampu menjadi conditioned
stimulus.
Percobaan yang
hampir sama dilakukan terhadap seorang anak berumur 11 bulan dengan seekor
tikus putih. Setiap kali si anak akan memegang tikus putih maka dipukullah
sebatang besi dengan sangat keras sehingga membuat si anak kaget. Begitu
percobaan ini diulang terus menerus sehingga pada taraf tertentu maka si anak
akan menangis begitu hanya melihat tikus putih tersebut. Bahkan setelah itu dia
menjadi takut dengan segala sesuatu yang berbulu: kelinci, anjing, baju berbulu
dan topeng Sinterklas. Ini yang dinamakan pelaziman dan untuk mengobatinya kita
bisa melakukan apa yang disebut sebagai kontrapelaziman (counterconditioning).
4. Aliran
Strukturalisme (Structuralism)
Tokoh psikologi
Strukturalisme adalah Wilhelm
Wundt. Yang mulai berkembang pada abad ke-19 yaitu pada awal berdirinya
psikologi sebagai suatu disiplin ilmu yang mandiri. Menurut Wundt untuk
mempelajari gejala-gejala kejiwaaan kita harus mempelajari isi dan struktur
jiwa seseorang. Metode yang digunakan adalah instrospeksi / Elemen mawas diri.
Obyek yang dipelajari dalam psikologi ini adalah Kesadaran.
Mental/elemen-elemen yang kecil yaitu jiwa, kesadaran, dan penginderaan
(penangkapan terhadap rangsang yang dating dari luar dan dapat dianalisa sampai
elemen-elemen yang terkecil).Perasaaan sesuatu yang dimiliki dalam diri kita,
tidak terlalu di pengaruh rangsangan dari luar.
Tokoh
strukturalisme lain adalah Edward Bradford Titchener.
Titchener merupakan orang Inggris yang mewakili pandangan-pandangan psikologi
Jerman (Wundt) di Amerika Serikat. Ia adalah murid dari Wundt dan ia
menerjemahkan beberapa buku Wundt dalam bahasa Inggris.
5. Psikologi
Humanistis
Aliran ini
muncul akibat reaksi atas aliran behaviourisme dan psikoanalisis. Kedua aliran
ini dianggap merendahkan manusia menjadi sekelas mesin atau makhluk yang
rendah.
Salah satu tokoh
dari aliran ini – Abraham Maslow – mengkritik Freud dengan mengatakan bahwa
Freud hanya meneliti mengapa setengah jiwa itu sakit, bukannya meneliti mengapa
setengah jiwa yang lainnya bisa tetap sehat.
Adalah Viktor
Frankl yang mengembangkan teknik psikoterapi yang disebut sebagai logotherapy (logos =
makna). Pandangan ini berprinsip:
a) Hidup
memiliki makna, bahkan dalam situasi yang paling menyedihkan sekalipun.
b) Tujuan
hidup kita yang utama adalah mencari makna dari kehidupan kita itu sendiri.
c) Kita
memiliki kebebasan untuk memaknai apa yang kita lakukan dan apa yang kita alami
bahkan dalam menghadapi kesengsaraan sekalipun.
Frankl
mengembangkan teknik ini berdasarkan pengalamannya lolos dari kamp konsentrasi
Nazi pada masa Perang Dunia II, di mana dia
mengalami dan
menyaksikan penyiksaan-penyiksaan di kamp tersebut. Dia menyaksikan dua hal
yang berbeda, yaitu para tahanan yang putus asa dan para tahanan yang memiliki
kesabaran luar biasa serta daya hidup yang perkasa. Frankl menyebut hal ini
sebagai kebebasan seseorang memberi makna pada hidupnya.
Logoterapi ini
sangat erat kaitannya dengan SQ tadi, yang bisa kita kelompokkan berdasarkan
situasi-situasi berikut ini:
1) Ketika
seseorang menemukan dirinya (self-discovery). Sa’di (seorang
penyair besar dari Iran) menggerutu karena kehilangan sepasang sepatunya di
sebuah masjid di Damaskus. Namun di tengah kejengkelannya itu ia melihat bahwa
ada seorang penceramah yang berbicara dengan senyum gembira. Kemudian tampaklah
olehnya bahwa penceramah tersebut tidak memiliki sepasang kaki. Maka tiba-tiba
ia disadarkan, bahwa mengapa ia sedih kehilangan sepatunya sementara ada orang
yang masih bisa tersenyum walau kehilangan kedua kakinya.
2) Makna
muncul ketika seseorang menentukan pilihan. Hidup menjadi tanpa makna ketika
seseorang tak dapat memilih. Sebagai contoh: seseorang yang mendapatkan tawaran
kerja bagus, dengan gaji besar dan kedudukan tinggi, namun ia harus pindah dari
Yogyakarta menuju Singapura. Di satu sisi ia mendapatkan kelimpahan materi
namun di sisi lainnya ia kehilangan waktu untuk berkumpul dengan anak-anak dan
istrinya. Dia menginginkan pekerjaan itu namun sekaligus punya waktu untuk
keluarganya. Hingga akhirnya dia putuskan untuk mundur dari pekerjaan itu dan
memilih memiliki waktu luang bersama keluarganya. Pada saat itulah ia merasakan
kembali makna hidupnya.
3) Ketika
seseorang merasa istimewa, unik dan tak tergantikan. Misalnya: seorang rakyat
jelata tiba-tiba dikunjungi oleh presiden langsung di rumahnya. Ia merasakan
suatu makna yang luar biasa dalam kehidupannya dan tak akan tergantikan oleh
apapun. Demikian juga ketika kita menemukan seseorang yang mampu mendengarkan
kita dengan penuh perhatian, dengan begitu hidup kita menjadi bermakna.
4) Ketika
kita dihadapkan pada sikap bertanggung jawab. Seperti contoh di atas, seorang
bendahara yang diserahi pengelolaan uang tunai dalam jumlah sangat besar dan
berhasil menolak keinginannya sendiri untuk memakai sebagian uang itu untuk
memuaskan keinginannya semata. Pada saat itu si bendahara mengalami makna yang
luar biasa dalam hidupnya.
5) Ketika
kita mengalami situasi transendensi (pengalaman yang membawa kita ke luar dunia
fisik, ke luar suka dan duka kita, ke luar dari diri kita sekarang). Transendensi
adalah pengalaman spiritual yang memberi makna pada kehidupan kita.
6. Aliran Fungsionalisme
Fungsionalisme adalah orientasi dalam psikologi yang
menekankan pada proses mental dan menghargai manfaat psikologi serta
mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan
manusia dan lingkungannya.
Fungsionalisme memandang bahwa pikiran, proses
mental, persepsi indrawi, dan emosi adalah adaptasi organisme
biologis. Fungsionalisme lebih menekankan pada fungsifungsi dan bukan hanya
fakta-fakta dari fenomena mental, atau berusaha menafsirkan fenomena mental
dalam kaitan dengan peranan yang dimainkannya dalam kehidupan.
Aliran fungsionalisme merupakan aliran psikologi
yang pernah sangat dominan pada masanya, dan merupakan hal penting yang patut
dibahas dalam mempelajari psikologi. Pendekatan fungsionalisme berlawanan
dengan pendahulunya, yaitu strukturalisme. Aliran fungsionalisme juga keluar
dari pragmatism sebagai sebuah filsafat. Aliran fungsionalisme berbeda dengan psikoanalisa,
maupun psikologi analytis, yang berpusat kepada seorang tokoh. Fungsionalisme
memiliki macam-macam tokoh antara lain Willian James, John Dewey, J.R.Anggell
dan James Mc.Keen Cattell .
Aliran dalam Fungsionalisme
Fungsionalisme mempunyai 2 (dua) aliran, namun
pendiri fungsionalisme itu sendiri adalah :
1. Aliran Fungsionalisme Chicago
Terdapat banyak tokoh Fungsionalisme di Universitas
Chicago sehingga dapat dikatakan menjadi aliran tersendiri yang disebut
Fungsionalisme Chicago.
a) John
Dewey (1859-1952)
Pada tahun 1886 menulis buku yang berjudul
“Psychology” dan dalam
bukunya ini beliau mengenalkan cara orang Amerika
belajar ppsikologi
yaitu melalui cara pragmatisme. Sarjana-sarjana di
Amerika kurang tertarik
dengan pertanyaan “Apakah jiwa itu?” tetapi lebih
tertarik pada pertanyaan “Apakah kegunaan jiwa?” John Dewey juga menganjurkan
metode yang Ia sebut dengan Learning by doing (belajar sambil melakukan) Dewey
berpendapat bahwa segala pemikiran dan perbuatan harus selalu mempunyai tujuan,
oleh karena alasan itulah ia menentang teori elementarisme.
b. James Rowland Angell
James memiliki tiga pandangan terhadap
fungsionalisme, yaitu:
§
Fungsionalisme adalah psikologi tentang “mental operation” (aktivitas bekerjanya
jiwa) sebagai lawan dari psikologi tentang elemen-elemen mental,
§
Fungsionalisme adalah psikologi tentang kegunaan dasar-dasar kesadaran. Ini
juga disebut sebagai teori emergensi dari kesadaran,
§
Fungsionalisme adalah psiko-phisik, yaiitu psikologi tentang keseluruhan
organisme yang terdiri dari badan dan jiwa.
2. Aliran Fungsionalisme Columbia
Selain di Chhicago, Fungsionalisme juga mempunyai
banyak tokoh di Teachers College Columbia yang disebut aliran Columbia. Ciri
aliran ini adalah kebebasannya
meneliti tingkah laku yang dianggap sebagai kesatuan
yang tak dapat dipisahkan dan psikologi tak
perlu ersifat deskriptif karena yang penting adalah korelasi tingkah laku dengan
tingkah laku lain.
7. . Transpersonal
a. Pengertian
Transpersonal
Transpersonal berasal dari kata trans dan personal. Trans yang
berarti melewati dan personal yang
berarti pribadi atau psikis. Psikologi transpersonal memfokuskan diri pada
bentuk-bentuk kesadaran manusia, khususnya taraf kesadaran ASCs (Altered States
of Consciosness).
Dua unsur penting aliran transpersonal adalah
potensi luhur seperti keruhanian, pengalaman mistik dan lain sebagainya. Unsur
penting yang kedua adalah corak kesadaran yaitu memasuki alam kebatinan,
pengalih dimensi meditasi.
c. Tokoh
– Tokoh Aliran Transpersonal
Psikologi transpersonal dikembangkan pertama kali oleh
para ahli yang sebelumnya mengkaji secara mendalam bidang humanistik seperti
Abraham Maslow, C.G. Jung, Victor Frankl, Antony Sutich, Charles Tart dan
lainnya. Dengan melihat dari para tokoh awalnya maka dapat diketahui bahwa
psikologi transpersonal merupakan turunan langsung dari psikologi humanistik.
Yang membedakan antara psikologi humanistik dan psikologi transpersonal adalah
di dalam psikologi transpersonal lebih menggali kemampuan manusia dalam dunia spiritual,
pengalaman puncak, dan mistisme yang dialami manusia. Beberapa kalangan
berpendapat bahwa bidang spiritualitas dan kebatinan hanya didominasi oleh para
ahli-ahli agama dan juga praktisi mistisme, namun ternyata dalam
perkembangannya, kesadaran akan hal ini dapat diaplikasikan dan dibahas dalam
ilmu pasti.
Secara garis besar seperti yang dikemukakan oleh
Lajoie dan Shapiro dalam Journal of Transpersonal Psychology didefinisikan
psikologi transpersonal sebagai studi mengenai potensi tertinggi dari manusia
melalui pengenalan, pemahaman dan realisasi terhadap keesaan, spiritualitas dan
kesadaran-transendental. Psikologi transpersonal juga melepaskan diri dari
keterikatan berbagai bentuk agama yang ada. Namun walau demikian dalam
penelitiannya psikologi transpersonal mengkaji pengalaman spiritual yang
dialami oleh para ahli spiritual yang berasal dari berbagai macam agama sebagai
subjek penelitiannya.
BAB III
PENUTUPAN
Kesimpulan
Dari pemaparan diatas dapat penulis simpulkan bahwa,
psikologi sebagai suatu disiplin ilmu dari tahun ketahun semakin menampakkan
kapasitasnya, terutama konstribusinya dalam menyikapi kejiwaan seseorang.
Psikologi juga merupakan gagasan-gagasan mengenai sesuatu yang menyangkut
tentang tingkah laku manusia dan lingkungan sekitarnya melalui
pengalaman-pengalaman yang dialami.
Wilhelm Wundt, orang pertama yang memproklamirkan
psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu sekaligus orang pertama kali mencetuskan
Ilmu Psikologi dan laboratorium lepzig jerman. Wundt mendeklarasikan
sebuah disiplin formal yakni psikologi yang didasarkan pada formulasi-formulasi
ilmiah sehingga psikologi diakui sebagai ilmu pengetahuan.
Aliran-aliran psikologi dalam menyikapi kejiwaan
seseorang cenderung berbeda. aliran psikoanlisis menyatakan dalam jiwa
seseorang terdapat Id, Ego, dan Superego, dan lebih memfokuskan pada ketidak
sadaran seseorang Lain lagi dengan aliran Gestalt yang menyatakan bahwa,
persepsi manusia terjadi secara menyeluruh bukan spotong-sepotong atau parsial.
Sedangkan behaviorisme menyatakan bahwa psikologi hanya memusatkan perhatian
pada apa yang dilakuakn oleh orang lain. Dan untuk aliran humanistik menyatakan
bahwa untuk memahami perilaku seseorang terletak pada sipelaku bukan sipengamat
Saran-saran.