1. Lahirnya sosiologi
Sosiologi sebagai Ilmu tentang Masyarakat. Sejumlah ilmuwan
berusaha menjelaskan adanya hubungan antarmanusia dan perilaku sosial budaya
melalui kehidupan bermasyarakat dan yang sekarang di kenal sebagai ilmu
sosiologi.
Di Eithopia pertama kali terjadi pemikiran terhadap konsep
masyarakat yang lambat laun melahirkan ilmu yang dinamai sosiologi tersebut.
Hal tersebut didorong oleh beberapa faktor antaralain karena semakin
meningkatnya perhatian terhadap masyarakat dan adanya perubahan-perubahan yang
terjadi dalam masyarakat, khususnya masyarakat Eropa.
Sosiologi lahir pada abad ke-19 yaitu pada saat transisi
menuju lahirnya masyarakat baru yang di tandai oleh beberapa peristiwa atau
berubahan besar pada masa tersebut. Beberapa peristiwa besar tersebut antara lain
sebagai berikut :
A. Revolusi Prancis (Revolusi Politik)
Perubahan masyarakat yang terjadi selama revolusi politik
sangat luar biasa baik bidang ekonomi, politik, dan sosial budaya. Adanya
semangat liberalisme muncul di segala bidang seperti penerapan dalam hukum dan
undang-undang. Pembagian masyarakat perlahan-lahan terhapus dansemua diberikan
hak yang sama dalam hukum.
B. Revolusi Industri (Revolusi Ekonomi)
Abad 18 merupakan saat terjadinya revolusi industri.
Berkembangnya kapitalisme perdagangan, mekanisasi proses dalam pabrik,
terciptanya unit-unit produksi yang luas, terbentuknya kelas buruh, dan
terjadinya urbanisasi merupakan manifestasi dari hiruk-pikuknya perekonomian.
Struktur masyarakat mengalami perubahan dengan munculnya kelas buruh dan kelas majikan
dengan kelas majikan yang menguasai perekonomian semakin melemahkan kelas buruh
sehingga muncul kekuatan-kekuatan buruh yang bersatu membentuk perserikatan.
Menurut Aguste Comte perubahan-perubahan tersebut berdampak negatif, yatiu
terjadinya konflik antar kelas dalam masyarakat. Comte melihat, setelah
pecahnya revolusi Prancis masyarakat prancis dilanda konflik antar kelas.
Konflik-konflik tersebut terjadi karena masyarakat tidak tahu bagaimana
mengatasi perubahan akibat revolusi dan hukum-hukum apa saja yang dapat dipakai
untuk mengatur tatanan sosial masyarakat. Maka Comte menganjurkan supaya semua
penelitian mengenai masyarakat ditingkatkan sebagai sebuah ilmu yang berdiri
sendiri. Comte membayangkan suatu penemuan hukum-hukum yang dapat mengatur
gejala-gejala sosial. Tetapi Auguste Comte belum dapat mengembangkan
hukum-hukum sosial itu sebagai suatu ilmu tersendiri. Comte hanya memberi
istilah untuk ilmu tersebut dengan sebutan sosiologi. Istilah sosiologi muncul
pertama kali pada tahun 1839 pada keterangan sebuah paragraf dalam pelajaran
ke-47 Cours
de la Philosophie
(KuliahFilsafat) karya Auguste Comte.Tetapi sebelumnya Comte
sempat menyebut ilmu pengetahuan ini dengan sebutan fisika sosial tetapi karena
istilah ini sudah dipakai oleh Adolphe Quetelet dalam studi ilmu barunya yaitu
tentang statistik kependudukan maka dengan berat hati Comte harus melepaskan
nama fisika sosial dan merumuskan istilah baru yaitu sosiologi yang berasal
dari bahasa Yunani yaitu socius(masyarakat) dan logos (ilmu). Dengan harapan
bahwa tujuan Dinamika Sosial.
2. Perkembangan Sosiologi di Negara-Negara
Barat
Perubahan besar di Eropa pada abad pertengahan, tetapi juga
terjadi pada abad ke-4 ketika Alexander menaklukan negara-negara Yunani, adapun
tokohnya adalah Plato, Aristoteles, Herodotus, Tucydides,
Polybios, dan Cicero.
Pembagian tahap-tahap perkembangan sosiologi dibagi menjadi
tiga yaitu,
a. Masa Sebelum Auguste Comte
Socrates
Lahir pd tahun 470 SM dan meninggal tahun 399 SM, Ia adalah
anak dari seorang pematung. Socrates mengajarkan yang penting yaitu mengenai
ditekannya logika sebagai dasar bagi semua ilmu pengetahuan
termasuk filsafat.
Plato
Plato adala murid dari Socrates. Ajaran Plato yaitu tentang
masyarakat menerangkan bahwa pada dasarnya masyarakat itu merupakan bentuk
perluasan dari individu, dan menurutnya individu memiliki 3 sifat yaitu nafsu
atau perasaan-perasaaan , semangat atau kehendak, dan kecerdasan atau akal.
Berdasarkan 3 elemen tersebut, Plato juga membedakan adanya
3 lapisan atau kelas sosial masyarakat yaitu sebagai berikut :
Bagi yang mengabdikanakan hidupnya untuk memenuhi nefsu dan
perasaannya seperti halnya memelihara tubuh manusia, maka dengan demikian juga
akan memelihara nafsu dan perasaan masyarakat. Mereke itulah kelas pekerja
tangan seperti buruh dan budak.
Karena semangat atau kehendak berfungsi melindungi tubuh
manusia, yang berarti harus pula melindungi masyarakat, maka yang bisa
melaksanakan hal itu adalah militer.
Karena mereka mengembangkan akal dan kecerdasan untuk
membimbing tubuh manusia, maka mereka bertugas juga mengembangkan akal guna
memerintah dan memimpin masyarakat. Mereka ini termasuk kelas penguasa.
Aristosteles
Menurutnya kelompok manusia yang dasar dan esensial adalah
pengelompokan (asosiasi) antara pria dan wanita untuk memperoleh keturunan, dan
asosiasi antara penguasa dengan yang dikuasai
Aristosteles juga memberi tiga bentuk pemerintahan yang
dilihat dari segi jumlah pemegang kepemimpinannya.
Pemerintah oleh seseorang, jika ia memerintah dengan baik
disebut monarki sedangkan bila memerintah dengan buruk disebut tirani.
Oleh sejumlah kecil orang disebut aristrokasi jika baik, dan
oligarki juka buruk.
Pemerintahan oleh banyak orang disebut demokrasi, dan itu
berlaku untuk penguasa yang memerintah dengan baik maupun buruk.
Jhon locke
Manusia pada dasarnya mempunyai hak-hak asasi yang berupa
hak hidup, kebebasan, dan hak atas harta benda.
J.J. Rousseau
Kontrak antara pemerintah dengan yang di perintah
menyebabkan tumbuhnya suatu kolektivitas yang mempunyai keinginan umum.
Ibnu Khaldun
Faktor yang menyebabkan bersatunya manusia di dalam
suku-suku, klan, negara, dan sebagainya adalah rasa solidaritas.
a.
b. Masa Auguste Comte
Sebagai suatu disiplin akademis yang mandiri, sosiologi
masih berumur relatif muda yaitu kurang dari 200 tahun. Istilah sosiologi untuk
pertama kali diciptakan oleh Auguste Comte dan oleh karenanya Comte sering
disebut sebagai bapak sosiologi. Istilah sosiologi ia tuliskan dalam karya
utamanya yang pertama, berjudul The
Course of Positive Philosophy, yang diterbitkan dalam tahun 1838. Karyanya
mencerminkan suatu komitmen yang kuat terhadap metode ilmiah. Menurut Comte
ilmu sosiologi harus didasarkan pada observasi dan klasifikasi yang sistematis
bukan pada kekuasaan dan spekulasi. Hal ini merupakan pandangan baru pada saat
itu. Di Inggris Herbert Spencer menerbitkan bukunya Principle of Sociology dalam tahun 1876. Ia menerapkan teeori
evolusi organik pada masyarakat manusia dan mengembangkan teori besar tentang
evolusi sosial yang diterima secara luas beberapa puluh tahun kemudian. Masa Setelah Auguste Comte
Herbert Spencer (1820-1903)
Herbert spencer pada tahun 1876 mengetengahkan teori tentang
evolusisosial, yaitu keyakinan bahwa masyarakat mengalami evolusidari
masyarakat primitif ke masyarakat industri.
Karl Marx
Ia memperkenalkan pendekatan materialisme dialektis yang
menganggap konflik antarkelas sosial menjadi inti sari perubahan dan
perkembangan masyarakat.
Emile Durkheim
Ia memperkenalkan pendekatan fungsionalisme yang berupaya
menelusuri fungsi berbagai elemen sosial sebagai pengikatsekaligus pemelihara
keteraturan sosial.
Max Weber
Memperkenalkan pendekatan verstehen (pemahaman), yang berupaya menulusuri nilai,
kepercayaan, pemahaman, dan sikap yang menjadi penentu perilaku manusia.
3. Perkembangan Sosiologi di Indonesia
Sejak jaman kerajaan di Indonesia sebenarnya para raja dan
pemimpin di Indonesia sudah mempraktikkan unsur-unsur Sosiologi dalam
kebijakannya begitu pula para pujangga Indonesia. Misalnya saja Ajaran Wulang
Reh yang diciptakan oleh Sri PAduka Mangkunegoro dari Surakarta, mengajarkan
tata hubungan antara para anggota masyarakat Jawa yang berasal dari
golongan-golongan yang berbeda, banyak mengandung aspek-aspek Sosiologi,
terutama dalam bidang hubungan antar golongan (intergroup relations).
Ki Hajar Dewantoro, pelopor utama pendidikan nasional di
Indonesia, memberikan sumbangan di bidang sosiologi terutama mengenai
konsep-konsep kepemimpinan dan kekeluargaan di Indonesia yang dengan nyata di
praktikkan dalam organisasi pendidikan Taman Siswa.
Pada masa penjajahan Belanda ada beberapa karya tulis orang
berkebangsaan belanda yang mengambil masyarakat Indonesai sebagai perhatiannya
seperti Snouck Hurgronje, C. Van Vollenhoven, Ter Haar, Duyv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia
adalah makhluk sosial (zoon politicon). Manusia hanya dapat hidup,
berkembang, dan memenuhi kebutuhannya dengan berhubungan dan bekerja sama
dengan manusia lain.
Satu-satunya
sarana untuk berhubungan dan bekerja sama dengan manusia lainnya adalah
komunikasi, baik secara verbal maupun non vebal. Dengan berkomunikasi, maka
akan terjadi hubungan sosial antara individu yang satu dengan individu lainnya.
Komunikasi memiliki hubungan yang sangat
erat dengan kehumasan dan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan
sehari-hari. Kehumasan (humas) bertujuan untuk menciptakan komunikasi dua arah
atau timbal-balik, memecahkan konflik kepentingan, dan menciptakan pengertian
berdasarkan kebenaran, pengetahuan, dan informasi yang lengkap. Oleh karena
itu, dapat dikatakan bahwa humas merupakan suatu proses komunikasi, namun tidak
semua proses komunikasi adalah humas.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka masalahnya
dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa pengertian
Komunikasi?
2. Apa pengertian
Kehumasan?
3. Bagaimana hubungan
Komunikasi dan Kehumasan?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Komunikasi
Kata
komunikasi berasal dari kata latin cum yaitu kata depan yang berarti dengan, bersama dengan, dan unus yaitu kata bilangan yang berarti satu. Dari kedua kata itu
terbentuk kata benda communion yang dalam bahasa Inggris menjadi communion dan berarti kebersamaan, persatuan, persekutuan, gabungan, pergaulan, hubungan. Karena untuk ber-communio diperlukan usaha dan kerja, dari kata
itu dibuat kata kerja communicare yang berarti membagi sesuatu dengan
seseorang, memberikan
sebagian kepada seseorang, tukar-menukar, membicarakan sesuatu dengan
seseorang, memberitahukan
sesuatu kepada seseorang, bercakap-cakap, bertukar pikiran, berhubungan, berteman. Kata kerja communicare itu pada akhirnya dijadikan kata
kerja benda communicatio,
atau bahasa Inggris communication dan dalam bahasa Indonesia diserap
menjadi komunikasi.
Berdasarkan
beberapa arti kata communicare yang menjadi asal kata komunikasi,
maka secara etiomologi komunikasi berarti pertukaran
pikiran, pembicaraan, atau hubungan.
Komunikasi
diawali dengan adanya pesan dari seseorang (pengirim). Pesan itu dikirimkan
melalui media tertentu kepada orang lain (penerima). Setelah pesan diterima dan
dipahami oleh penerima, maka penerima dapat memberikan tanggapan (umpan balik)
kepada pengirim. Dengan tanggapan penerima pesan tersebut, pengirim dapat
mengetahui efektifitas pesan yang dikirimnya.
Dari
proses komunikasi tersebut, komunikasi dapat diartikan sebagai suatu proses
pengiriman pesan dari komunikator (pengirim) kepada komunikan (penerima)
melalui media tertentu dengan mengharapkan umpan balik untuk menghasilkan efek.
a. Definisi Komunikasi
menurut beberapa pakar
Adapun
beberapa definisi komunikasi dari beberapa pakar, sebagai berikut:
1. Laswell, menyatakan bahwa komunikasi
adalah proses yang menggambarkan siapa mengatakan apa, dengan cara apa, kepada
siapa, dengan efek apa.
2. Carl L. Hovland, menyatakan bahwa
komunikasi adalah proses di mana seseorang individu atau komunikator
mengoperkan stimulant biasanya dengan lambang-lambang bahasa (verbal maupun
nonverbal) untuk mengubah tingkah laku orang lain.
3. Theodorson dan Thedorson, menyatakan
bahwa komunikasi adalah penyebaran informasi, ide-ide sebagai sikap atau emosi
dari seseorang kepada orang lain terutama melalui simbol-simbol.
4. Edwin Emery, menyatakan bahwa
komunikasi adalah seni menyampaikan informasi, ide-ide dan sikap seseorang
kepada orang lain.
5. Deltont E, Mc Farland, menyatakan
bahwa komunikasi adalah suatu proses interaksi yang mempunyai arti antara
sesama manusia.
Komunikasi
merupakan sarana untuk terjalinnya hubungan antar seseorang dengan orang lain.
Dengan adanya komunikasi maka terjadilah hubungan sosial, karena memang pada
dasarnya manusia sebagai makhluk sosial, antara yang satu dengan yang lainnya
saling membutuhkan, sehingga terjadinya interaksi yang timbal balik.
Secara
umum komunikasi dapat digambarkan bahwa: dalam kehidupan sosial, proses
komunikasi tidak pernah berhenti sejak dari bangun tidur sampai tidur kembali. Komunikasi
senantiasa hadir dalam setiap sendi kehidupan manusia. Hal tersebut dapat
dilihat bahwa setiap hari manusia mengadakan komunikasi, dengan ibu, bapak,
saudara, dengan kawan atau dengan siapa saja, bahkan dengan diri sendiri
(komunikasi intra personal). Komunikasi yang dilakukan oleh manusia bisa secara
sadar maupun tidak sadar di manapun, kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun.
B. Pengertian Kehumasan
Kata
kehumasan berasal dari akar kata humas yang merupakan singkatan dari hubungan masyarakat. Hubungan
masyarakat (humas) merupakan terjemahan dari istilah public relations.
Public Relations merupakan lapangan baru
di bidang komunikasi yang tumbuh dan berkembang pesat pada permulaan dekade
ke-20 ini. Perkembangannya berkaitan erat dengan kemajuan masyarakat di
berbagai bidang, terutama di bidang industry, bisnis, perusahaan, bahkan
akhir-akhir ini juga berkembang pesat di bidang politik dan pemerintahan.
Lahirnya public relations seperti yang dipraktekkan
sekarang, bertolak dari adanya kemajuan di berbagai bidang, yang membutuhkan
jasa-jasa public relations.
Namun,
Menurut para pakar, hingga kini belum terdapat konsensus mutlak tentang
definisi humas (public relations). Hal ini disebabkan oleh: pertama, beragamnya definisi public relations yang telah dirumuskan baik oleh para
pakar maupun profesional humas
yang didasari perbedaan sudut pandang mereka terhadap pengertian humas. Kedua, perbedaan latar
belakang, misalnya definisi yang dilontarkan oleh kalangan akademisi perguruan
tinggi akan lain bunyinya dengan apa yang diungkapkan oleh kalangan praktisi (public
relations practitioner). Dan ketiga,
adanya indikasi baik teoritis maupun praktis bahwa kegiatan kehumasan bersifat
dinamis dan fleksibel terhadap perkembangan dinamika kehidupan masyarakat yang
mengikuti kemajuan zaman.
Sam
Black dan Melvin L. Sharpe menyatakan, kesulitan yang dialami profesi humas
untuk merumuskan definisi yang dapat diterima oleh semua praktisi, disebabkan
karena demikian kompleks dan beragamnya unsur profesi humas. Profesi ini
terdiri atas banyak unsur keahlian khusus. Keahlian ini meliputi keahlian
profesional, dari yang harus dimiliki oleh para pemula dan tingkat menengah di
bidang humas dan penerbitan sampai tingkat konsultasi manajemen.
Menurut
Oemi Atiyah, humas
adalah sebuah unit yang mempunyai tugas untuk membangun kerja sama, saling
pengertian, saling menghargai dengan komunikasi dua arah. Humas merupakan
fungsi manajemen yang membentuk dan mengelola hubungan saling menguntungkan
antar organisasi dan masyarakat. Keberhasilan ini bergantung pada fungsinya.
a. Definisi Humas menurut
beberapa pakar
Adapun
definisi humas menurut para pakar, antara lain sebagai berikut:
1. J.C. Sendel, menyatakan bahwa humas
adalah proses kontinu dari usaha-usaha manajemen untuk memperoleh goodwill dan pengertian dari para langganannya,
pegawai dan publik umumnya, ke dalam dengan mengadakan analisis dan
perbaikan-perbaikan diri sendiri, keluar dengan mengadakan
pernyataan-pernyataan.
2. W. Emerson Reck, menyatakan bahwa
humas adalah kelanjutan dari proses penetapan kebijaksanaan, penentuan
pelayanan-pelayanan dan sikap yang disesuaikan dengan kepentingan orang-orang
atau golongan agar orang atau lembaga itu memperoleh kepercayaan dan goodwill dari mereka. Pelaksanaan kebijaksanaan
pelayanan dan sikap adalah untuk menjamin adanya pengertian dan penghargaan
yang sebaik-baiknya.
3. Horward Bonham, menyatakan bahwa
humas adalah suatu seni untuk menciptakan pengertian publik yang lebih baik,
yang dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap seseorang atau sesuatu
badan.
Dari
beberapa definisi yang dikemukakan sebelumnya, maka secara singkatnya humas
dapat diartikan sebagai suatu kontak atau hubungan yang diadakan oleh suatu
organisasi atau perusahaan dengan publik, baik publik internal maupun
eksternal.
b. Kode Etik Humas
Bagian
humas dapat dikatakan sebagai jantung etis dari sebuah organisasi. Karena humas
adalah pengendali komunikasi internal maupun eksternal, humas juga mengatasi
krisis organisasi.. Namun, banyak pula kalangan yang menganggap humas sebagai
pekerjaan yang kurang terhormat, karena humas bisa membuat sesuatu yang salah
menjadi benar.. Mayarakat menganggap humas lebih sering mengurus kebenaran dari
pada menyampaikan kebenaran.
Persepsi
yang berkembang seperti itulah yang mendorong perlunya para praktisi humas
membuat sebuah kode etik profesi yang menekankan kejujuran diatas segalanya.
Dengan adanya kode etik, maka profesi humas akan secara terbuka dapat dinilai
oleh masyarakat sehingga para profesionalnya bisa mempertanggungj jawabkan apa
yang telah dikerjakannya.
Bagian
ini akan mengajak kita memahami bagaimana isu-isu etika melingkupi dunia humas
dan juga akan disajikan lampiran Kode Etik Profesi Humas.
· Etika
Etika
berbeda dengan moral. Menurut Ruslan (1995), moral adalah suatu system nilai
tentang bagaimana menjalankan hidup dengan membedakan antara yang baik dengan
yang buruk selaku individu dan anggota masyarakat. Sistem nilai-nilai moral
tersebut secara garis besar acuannya adalah nilai universal menghenai baik dan
buruk, yang biasanya dikaitkan dengan nilai kesusilaan (kebaikan), tradisi atau
adapt istiadat yang berlaku, keagamaan, kependidikan, dan lain sebagainya. Kraf
(1991) menyebut moralitas adalah tradisi kepercayaan dalam agama atau
kebudayaan tentang perilaku yang baik dan buruk. Moralitas memberikan suatu
petunjuk dalam bentuk bagaimana seharusnya beritndak (das sollen).
Sementara
etika lebih banyak menyinggung nilai-nilai atau norma-norma moral yang bersifat
menentukan atau sebagai pedoman sikap tindak atau perilaku dalam wujud yang
lebih konkrit (das sein).\Terdapat dua macam etika (Ruslan, 1995):
1. Etika deskriptif. Etika yang menelaah
secara kritis dan rasional tentang sikap dan pola perilaku manusia serta apa
yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai.
Artinya etika deskripstif tersebut berbicara mengenai fakta secara apa adanya,
yakni mengenai nilai dan pola perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait
dengan situasi dan realitas konkrit yang membudaya. Dapat disimpulkan bahwa
tentang kenyataan dalam penghayatan nilai atau tanpa niali dalam suatu
masyarakat yang dikaitkan dengan kondisi tertentu memungkinkan manusia
bertindak secara etis.
2. Etika normatif. Yaitu etika yang
menetapkan berbagai sikap dan pola perilaku yang ideal yang seharusnya dimiliki
oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan tindakan apa
yang bernilai dalam hidup ini (Keraf, 1991). Oleh karena itu etika normative
merupakan norma-norma yang dapat menuntun dan menghimbau manusia agar bertindak
secara baik dan menghindarkan hal yang buruk, sesuai dengan kaidah atau norma
yang berlaku di masyarakat.
C. Hubungan Komunikasi
dengan Kehumasan
Pada
dasarnya, berbicara masalah hubungan komunikasi dengan kehumasan, sama halnya
ketika berbicara masalah hubungan komunikasi dengan dakwah. Menurut Bapak
Arifuddin Tike, dakwah merupakan suatu proses komunikasi, namun tidak semua
proses komunikasi merupakan proses dakwah. Demikian pula dengan kehumasan
(humas). Humas merupakan suatu proses komunikasi, namun belum tentu proses
komunikasi merupakan suatu proses kehumasan.
Sebagaimana
yang telah dikemukakan pada bab pendahuluan, bahwa tujuan penyelenggaraan
hubungan masyarakat (humas) di antaranya adalah menciptakan komunikasi dua arah
dan membentuk pengertian berdasarkan kebenaran, pengetahuan, dan informasi yang
lengkap. Maka kegiatan kehumasan pada hakikatnya adalah kegiatan komunikasi,
namun berbeda dengan kegiatan komunikasi lainnya. Kegiatan komunikasi dalam
kehumasan mempunyai ciri-ciri tertentu. Ciri-ciri tersebut antara lain sebagai
berikut:
1. Komunikasi dalam kegiatan humas
berlangsung dua arah (timbal-balik).
2. Kegiatan yang dilakukan terdiri atas
penyebaran informasi, penggiatan persuasif, dan pengkajian pendapat umum.
3. Tujuan yang hendak dicapai adalah
tujaun perusahaan/ organisasi tempat humas berada;
4. Sasaran yang dituju adalah khalayak
internal dan khalayak eksternal;
Kehumasan
senantiasa berkenaan dengan kegiatan penciptaan pemahaman melalui pengetahuan,
dan melalui kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan akan muncul suatu
dampak, yakni berupa perubahan yang positif. Dengan demikian, dapat dikatakan
bahwa kunci sukses humas adalah melalui komunikasi. Artinya, keberhasilan humas
untuk mencapai tujuannya bergantung kepada sejauh mana humas itu dapat menjalin
hubungan yang baik dengan masyarakatnya, baik khalayak internal maupun
eksternal.
Misi
yang diemban oleh humas yakni memberikan pelayanan informasi kepada masyarakat
tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan kebijaksanaan, kegiatan dan
tindakan organisasi/ perusahaan. Pelayanan informasi tersebut hanya dapat
dilaksanakan melalui komunikasi.
Dalam
pengertian teoritis, hubungan masyarakat merupakan bagian integral dari suatu
kelembagaan dan bukan suatu fungsi atau bagian yang berdiri sendiri. Hubungan
masyarakat adalah penyelenggara komunikasi timbale-balik antara suatu lembaga
tersebut. Dari pihak suatu lembaga, komunikasi seperti ini diajukan untuk
menciptakan saling pengertian dan dukungan bagi terciptanya tujuan, kebijakan
dan tindakan lembaga tersebut. Dengan kata lain, Hubungan masyarakat berfungsi
menumbuhkan hubungan baik antara segenap komponen pada suatu lembaga dalam rangka
memberikan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi. Semua ini
bertujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan penengertian dan kemauan baik (good
will) publiknya serta memperoleh opini public yang menguntungkan (atau
untuk menciptakan kerja sama berdasarkan hubungan yang baik dengan public).
Kunci
sukses suatu komunikasi, dalam hal ini komunikasi dalam hubungan masyarakat,
sangat tergantung pada pelaksanaan komunikasi yang efektif. Dalam kaitan dengan
prinsip komunikasi yang efektif, hal-hal yang diperhatikan adalah :
1. jenis publik (khalayak) yang menjadi
sasaran
2. susunan pesan bagaimana yang paling
tepat dan mudah dipahami
3. saluran apa yang paling sesuai dengan
sifat public yang dituju
Demi
efektifnya komunikasi, maka pengetahuan secara terperinci tentang public yang
dituju sangat penting. Ini berarti, sifat dan ciri public yang dituju didalam
kegiatan hubungan masyarakat haruslah diketahui.
“The more carefully oer difine various publics, the more ways of
reaching and influencing them one will discover” (semakin teliti orang menentukan
khalayak yang dituju, semakin banyak diemukan cara-cara untuk mendekati dan
mempengaruhinya).
Karena
itu meskipun penelitian mengenai khalayak (audience research) cukup mahal biayanya, tapi itu
harus dilakukan demi diperolehnya cara dan teknik untuk mempengaruhinya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari
pembahasan sebelumnya, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1. Komunikasi adalah suatu proses
pengiriman pesan dari komunikator (pengirim) kepada komunikan (penerima)
melalui media tertentu dengan mengharapkan umpan balik untuk menghasilkan efek.
2. Kehumasan (humas) adalah suatu kontak
atau hubungan yang diadakan oleh suatu organisasi atau perusahaan dengan
publik, baik publik internal maupun eksternal. Kehumasan merupakan suatu proses
komunikasi dengan ciri khas komunikasi dua arah (timbal-balik).
3. Hubungan komunikasi dengan kehumasan
sama halnya ketika berbicara masalah hubungan komunikasi dengan dakwah. Dakwah
merupakan suatu proses komunikasi, namun tidak semua proses komunikasi
merupakan proses dakwah. Demikian pula dengan kehumasan (humas). Humas
merupakan suatu proses komunikasi, namun belum tentu proses komunikasi
merupakan suatu proses kehumasan.
DAFTAR PUSTAKA
Buku Acuan
Atiya,
Oemi Atiyah, 2007. "Profesionalisme Kehumasan", Komunika, Vol. 10, No. 1.
Black,
Sam., dan L. Sharpe, Melvin. 1988. Practical
Public Relations Common-Sense Guidelines for Business and Professional People.
Diterjemahkan oleh Ardaneshwari dengan judul: Ilmu
Hubungan Masyarakat Praktis. PT Intermasa, Jakarta.
M.
Hardjana, Agus. 2003. Komunikasi
Intrapersonal dan Interpersonal. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Ruslan,
Rosady. 2010. Manajemen Public
Relations dan Media Komunikasi. Rajawali Pers, Jakarta.
Suprapto,
Tommy. 2009. Pengantar Teori
dan Manajemen Komunikasi.
Media Pressindo, Yogyakarta.
Tike,
Arifuddin. 2009. Dasar-Dasar
Komunikasi. Kota Kembang,
Yogyakarta.
Internet
http://blog.elearning.unesa.ac.id/m-saikhul-arif/makalah-komunikasi-dalam-pendidikan
http://teorikuliah.blogspot.com/2009/07/ruang-lingkup-humas.html
endak dll. Dalam karya mereka tampak unsur-unsur Sosiologi
di dalamnya yang dikupas secara ilmiah tetapi kesemuanya hanya dikupas dalam
kerangka non sosiologis dan tidak sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri
sendiri. Sosiologi pada waktu itu dianggap sebagai Ilmu pembantu bagi ilmu-ilmu
pengetahuan lainnya. Dengan kata lain Sosiologi ketika itu belum dianggap cukup
penting dan cukup dewasa untuk dipelajari dan dipergunakan sebagai ilmu
pengetahuan, terlepas dari ilmu-ilmu pengetahuan lainnya.
Kuliah-kuliah Sosiologi mulai diberikan sebelum Perang Dunia
ke dua diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Hukum (Rechtshogeschool) di Jakarta.
Inipun kuliah Sosiologi masih sebagai pelengkap bagi pelajaran Ilmu Hukum.
Sosiologi yang dikuliahkan sebagin besar bersifat filsafat Sosial dan Teoritis,
berdasarkan hasil karya Alfred Vierkandt, Leopold Von Wiese, Bierens de Haan,
Steinmetz dan sebagainya.
Pada tahun 1934/1935 kuliah-kuliah Sosiologi pada sekolah
Tinggi Hukum tersebut malah ditiadakan. Para Guru Besar yang bertaggung jawab
menyusun daftar kuliah berpendapat bahwa pengetahuan dan bentuk susunan
masyarakat beserta proses-proses yang terjadi di dalamnya tidak diperlukan
dalam pelajaran hukum.
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus
1945, seorang sarjana Indonesia yaitu Soenario Kolopaking, untuk pertama
kalinya member kuliah sosiologi (1948) pada Akademi Ilmu Politik di Yogyakarta
(kemudia menjadi Fakultas Sosial dan Ilmu Politik UGM . Beliau memberika kuliah
dalam bahasa Indonesai ini merupakan suatu yang baru, karena sebelum perang
dunia ke dua semua perguruan tinggi diberikan da;am bahasa Belanda. Pada
Akademi Ilmu Politik tersebut, sosiologi juga dikuliahkan sebagai ilmu
pengetahuan dalam Jurusan Pemerintahan dalam Negeri, hubungan luar negeri dan
publisistik. Kemudian pendidkikan mulai di buka dengan memberikan kesempatan
kepara para mahasiswa dan sarjana untuk belajar di luar negeri sejak tahun
1950, mulailah ada beberapa orang Indonesia yang memperdalam pengetahuan
tentang sosiologi.
Buku Sosiologi mulai diterbitkan sejak satu tahun pecahnya
revolus fisik. Buku tersebut berjudul Sosiologi Indonesai oleh Djody
Gondokusumo, memuat tentang beberapa pengertian elementer dari Sosiologi yang
teoritis dan bersifat sebagai Filsafat.
Selanjutnya buku karangan Hassan Shadily dengan judul
Sosilogi Untuk Masyarakat Indonesia yang merupakan merupakan buku pelajaran
pertama yang berbahasa Indonesia yang memuat bahan-bahan sosiologi yang modern.
Para pengajar sosiologi teoritis filosofis lebih banyak
mempergunakan terjemahan buku-bukunya P.J. Bouman, yaitu Algemene
Maatschapppijleer dan Sociologie, bergrippen en problemen serta buku Lysen yang
berjudul Individu en Maatschapppij.
Buku-buku Sosiologi lainnya adalah Sosiologi Suatu Pengantar
Ringkas karya Mayor Polak, seorang warga Negara Indonesia bekas anggota Pangreh
Praja Belanda, yang telah mendapat pelajaran sosiologi sebelum perang dunia
kedua pada universitas Leiden di Belanda. Beliau juga menulis buku berjudul
Pengantar Sosiologi Pengetahuan, Hukum dan politik terbit pada tahun 1967.
Penulis lainnya Selo Soemardjan menulis buku Social Changes in Yogyakarta pada
tahun 1962. Selo Soemardjan bersama Soelaeman Soemardi, menghimpun
bagian-bagian terpenting dari beberapa text book ilmu sosiologi dalam bahasa
Inggris yang disertai dengan pengantar ringkas dalam bahasa Indonesia dirangkum
dalam buku Setangkai Bunga Sosiologi terbit tahun 1964.
Dewasa ini telah ada sejumlah Universitas Negeri yang
mempunyai Fakultas Sosial dan politik atau Fakultas Ilmu Sosial. Sampai saat
ini belum ada Universitas yang mngkhususkan sosiologi dalam suatu fakultas
sendiri, namun telah ada Jurusan Sosiologi pada beberapa fakultas Sosial dan
Politik UGM, UI dan UNPAD.
Penelitian-penelitian sosiologi di Indonesai belum mendapat
tempat yang sewajarnya, oleh karena masyarakat masih percaya pada angka-angka
yang relative mutlak, sementara sosiologi tidak akan mungkin melakukan hal-hal
yang berlaku mutlak disebkan masing-masing manusia memiliki kekhususan. Apalagi
masyarakat Indonesai merupakan masyarakat majemuk yang mencakup berates suku.


0 komentar:
Posting Komentar