Senin, 17 Maret 2014

Hubungan komunikasi dengan kehumasan

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk sosial (zoon politicon). Manusia hanya dapat hidup, berkembang, dan memenuhi kebutuhannya dengan berhubungan dan bekerja sama dengan manusia lain.
Satu-satunya sarana untuk berhubungan dan bekerja sama dengan manusia lainnya adalah komunikasi, baik secara verbal maupun non vebal. Dengan berkomunikasi, maka akan terjadi hubungan sosial antara individu yang satu dengan individu lainnya.
Komunikasi memiliki hubungan yang sangat erat dengan kehumasan dan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Kehumasan (humas) bertujuan untuk menciptakan komunikasi dua arah atau timbal-balik, memecahkan konflik kepentingan, dan menciptakan pengertian berdasarkan kebenaran, pengetahuan, dan informasi yang lengkap. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa humas merupakan suatu proses komunikasi, namun tidak semua proses komunikasi adalah humas.

B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka masalahnya dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.    Apa pengertian Komunikasi?
2.    Apa pengertian Kehumasan?
3.    Bagaimana hubungan Komunikasi dan Kehumasan?

BAB II
PEMBAHASAN
A.   Pengertian Komunikasi
Kata komunikasi berasal dari kata latin cum yaitu kata depan yang berarti dengan, bersama dengan, dan unus yaitu kata bilangan yang berarti satu. Dari kedua kata itu terbentuk kata benda communion yang dalam bahasa Inggris menjadi communion dan berarti kebersamaan, persatuan, persekutuan, gabungan, pergaulan, hubungan. Karena untuk ber-communio diperlukan usaha dan kerja, dari kata itu dibuat kata kerja communicare yang berarti membagi sesuatu dengan seseorang, memberikan sebagian kepada seseorang, tukar-menukar, membicarakan sesuatu dengan seseorang, memberitahukan sesuatu kepada seseorang, bercakap-cakap, bertukar pikiran, berhubungan, berteman. Kata kerja communicare itu pada akhirnya dijadikan kata kerja benda communicatio, atau bahasa Inggris communication dan dalam bahasa Indonesia diserap menjadi komunikasi.
Berdasarkan beberapa arti kata communicare yang menjadi asal kata komunikasi, maka secara etiomologi komunikasi berarti pertukaran pikiran, pembicaraan, atau hubungan.
Komunikasi diawali dengan adanya pesan dari seseorang (pengirim). Pesan itu dikirimkan melalui media tertentu kepada orang lain (penerima). Setelah pesan diterima dan dipahami oleh penerima, maka penerima dapat memberikan tanggapan (umpan balik) kepada pengirim. Dengan tanggapan  penerima pesan tersebut, pengirim dapat mengetahui efektifitas pesan yang dikirimnya.
Dari proses komunikasi tersebut, komunikasi dapat diartikan sebagai suatu proses pengiriman pesan dari komunikator (pengirim) kepada komunikan (penerima) melalui media tertentu dengan mengharapkan umpan balik untuk menghasilkan efek.

a.     Definisi Komunikasi menurut beberapa pakar      
Adapun beberapa definisi komunikasi dari beberapa pakar, sebagai berikut:
1.    Laswell, menyatakan bahwa komunikasi adalah proses yang menggambarkan siapa mengatakan apa, dengan cara apa, kepada siapa, dengan efek apa.
2.    Carl L. Hovland, menyatakan bahwa komunikasi adalah proses di mana seseorang individu atau komunikator mengoperkan stimulant biasanya dengan lambang-lambang bahasa (verbal maupun nonverbal) untuk mengubah tingkah laku orang lain.
3.    Theodorson dan Thedorson, menyatakan bahwa komunikasi adalah penyebaran informasi, ide-ide sebagai sikap atau emosi dari seseorang kepada orang lain terutama melalui simbol-simbol.
4.    Edwin Emery, menyatakan bahwa komunikasi adalah seni menyampaikan informasi, ide-ide dan sikap seseorang kepada orang lain.
5.    Deltont E, Mc Farland, menyatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses interaksi yang mempunyai arti antara sesama manusia.
Komunikasi merupakan sarana untuk terjalinnya hubungan antar seseorang dengan orang lain. Dengan adanya komunikasi maka terjadilah hubungan sosial, karena memang pada dasarnya manusia sebagai makhluk sosial, antara yang satu dengan yang lainnya saling membutuhkan, sehingga terjadinya interaksi yang timbal balik.
Secara umum komunikasi dapat digambarkan bahwa: dalam kehidupan sosial, proses komunikasi tidak pernah berhenti sejak dari bangun tidur sampai tidur kembali. Komunikasi senantiasa hadir dalam setiap sendi kehidupan manusia. Hal tersebut dapat dilihat bahwa setiap hari manusia mengadakan komunikasi, dengan ibu, bapak, saudara, dengan kawan atau dengan siapa saja, bahkan dengan diri sendiri (komunikasi intra personal). Komunikasi yang dilakukan oleh manusia bisa secara sadar maupun tidak sadar di manapun, kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun.

B.   Pengertian Kehumasan
Kata kehumasan berasal dari akar kata humas yang merupakan singkatan dari hubungan masyarakat. Hubungan masyarakat (humas) merupakan terjemahan dari istilah public relations.
Public Relations merupakan lapangan baru di bidang komunikasi yang tumbuh dan berkembang pesat pada permulaan dekade ke-20 ini. Perkembangannya berkaitan erat dengan kemajuan masyarakat di berbagai bidang, terutama di bidang industry, bisnis, perusahaan, bahkan akhir-akhir ini juga berkembang pesat di bidang politik dan pemerintahan. Lahirnya public relations seperti yang dipraktekkan sekarang, bertolak dari adanya kemajuan di berbagai bidang, yang membutuhkan jasa-jasa public relations.

Namun, Menurut para pakar, hingga kini belum terdapat konsensus mutlak tentang definisi humas (public relations). Hal ini disebabkan oleh: pertama, beragamnya definisi public relations yang telah dirumuskan baik oleh para pakar maupun profesional humas yang didasari perbedaan sudut pandang mereka terhadap pengertian humas. Kedua, perbedaan latar belakang, misalnya definisi yang dilontarkan oleh kalangan akademisi perguruan tinggi akan lain bunyinya dengan apa yang diungkapkan oleh kalangan praktisi (public relations practitioner). Dan ketiga, adanya indikasi baik teoritis maupun praktis bahwa kegiatan kehumasan bersifat dinamis dan fleksibel terhadap perkembangan dinamika kehidupan masyarakat yang mengikuti kemajuan zaman.
Sam Black dan Melvin L. Sharpe menyatakan, kesulitan yang dialami profesi humas untuk merumuskan definisi yang dapat diterima oleh semua praktisi, disebabkan karena demikian kompleks dan beragamnya unsur profesi humas. Profesi ini terdiri atas banyak unsur keahlian khusus. Keahlian ini meliputi keahlian profesional, dari yang harus dimiliki oleh para pemula dan tingkat menengah di bidang humas dan penerbitan sampai tingkat konsultasi manajemen.
Menurut Oemi Atiyah, humas adalah sebuah unit yang mempunyai tugas untuk membangun kerja sama, saling pengertian, saling menghargai dengan komunikasi dua arah. Humas merupakan fungsi manajemen yang membentuk dan mengelola hubungan saling menguntungkan antar organisasi dan masyarakat. Keberhasilan ini bergantung pada fungsinya.
a.     Definisi Humas menurut beberapa pakar
Adapun definisi humas menurut para pakar, antara lain sebagai berikut:
1.    J.C. Sendel, menyatakan bahwa humas adalah proses kontinu dari usaha-usaha manajemen untuk memperoleh goodwill dan pengertian dari para langganannya, pegawai dan publik umumnya, ke dalam dengan mengadakan analisis dan perbaikan-perbaikan diri sendiri, keluar dengan mengadakan pernyataan-pernyataan.
2.    W. Emerson Reck, menyatakan bahwa humas adalah kelanjutan dari proses penetapan kebijaksanaan, penentuan pelayanan-pelayanan dan sikap yang disesuaikan dengan kepentingan orang-orang atau golongan agar orang atau lembaga itu memperoleh kepercayaan dan goodwill dari mereka. Pelaksanaan kebijaksanaan pelayanan dan sikap adalah untuk menjamin adanya pengertian dan penghargaan yang sebaik-baiknya.
3.    Horward Bonham, menyatakan  bahwa humas adalah suatu seni untuk menciptakan pengertian publik yang lebih baik, yang dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap seseorang atau sesuatu badan.
Dari beberapa definisi yang dikemukakan sebelumnya, maka secara singkatnya humas dapat diartikan sebagai suatu kontak atau hubungan yang diadakan oleh suatu organisasi atau perusahaan dengan publik, baik publik internal maupun eksternal.
b.     Kode Etik Humas
Bagian humas dapat dikatakan sebagai jantung etis dari sebuah organisasi. Karena humas adalah pengendali komunikasi internal maupun eksternal, humas juga mengatasi krisis organisasi.. Namun, banyak pula kalangan yang menganggap humas sebagai pekerjaan yang kurang terhormat, karena humas bisa membuat sesuatu yang salah menjadi benar.. Mayarakat menganggap humas lebih sering mengurus kebenaran dari pada menyampaikan kebenaran.
Persepsi yang berkembang seperti itulah yang mendorong perlunya para praktisi humas membuat sebuah kode etik profesi yang menekankan kejujuran diatas segalanya. Dengan adanya kode etik, maka profesi humas akan secara terbuka dapat dinilai oleh masyarakat sehingga para profesionalnya bisa mempertanggungj jawabkan apa yang telah dikerjakannya.
Bagian ini akan mengajak kita memahami bagaimana isu-isu etika melingkupi dunia humas dan juga akan disajikan lampiran Kode Etik Profesi Humas.
·         Etika
Etika berbeda dengan moral. Menurut Ruslan (1995), moral adalah suatu system nilai tentang bagaimana menjalankan hidup dengan membedakan antara yang baik dengan yang buruk selaku individu dan anggota masyarakat. Sistem nilai-nilai moral tersebut secara garis besar acuannya adalah nilai universal menghenai baik dan buruk, yang biasanya dikaitkan dengan nilai kesusilaan (kebaikan), tradisi atau adapt istiadat yang berlaku, keagamaan, kependidikan, dan lain sebagainya. Kraf (1991) menyebut moralitas adalah tradisi kepercayaan dalam agama atau kebudayaan tentang perilaku yang baik dan buruk. Moralitas memberikan suatu petunjuk dalam bentuk bagaimana seharusnya beritndak (das sollen).
Sementara etika lebih banyak menyinggung nilai-nilai atau norma-norma moral yang bersifat menentukan atau sebagai pedoman sikap tindak atau perilaku dalam wujud yang lebih konkrit (das sein).\Terdapat dua macam etika (Ruslan, 1995):
1.         Etika deskriptif. Etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan pola perilaku manusia serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai. Artinya etika deskripstif tersebut berbicara mengenai fakta secara apa adanya, yakni mengenai nilai dan pola perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas konkrit yang membudaya. Dapat disimpulkan bahwa tentang kenyataan dalam penghayatan nilai atau tanpa niali dalam suatu masyarakat yang dikaitkan dengan kondisi tertentu memungkinkan manusia bertindak secara etis.
2.         Etika normatif. Yaitu etika yang menetapkan berbagai sikap dan pola perilaku yang ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini (Keraf, 1991). Oleh karena itu etika normative merupakan norma-norma yang dapat menuntun dan menghimbau manusia agar bertindak secara baik dan menghindarkan hal yang buruk, sesuai dengan kaidah atau norma yang berlaku di masyarakat.

C.    Hubungan Komunikasi dengan Kehumasan
Pada dasarnya, berbicara masalah hubungan komunikasi dengan kehumasan, sama halnya ketika berbicara masalah hubungan komunikasi dengan dakwah. Menurut Bapak Arifuddin Tike, dakwah merupakan suatu proses komunikasi, namun tidak semua proses komunikasi merupakan proses dakwah. Demikian pula dengan kehumasan (humas). Humas merupakan suatu proses komunikasi, namun belum tentu proses komunikasi merupakan suatu proses kehumasan.
Sebagaimana yang telah dikemukakan pada bab pendahuluan, bahwa tujuan penyelenggaraan hubungan masyarakat (humas) di antaranya adalah menciptakan komunikasi dua arah dan membentuk pengertian berdasarkan kebenaran, pengetahuan, dan informasi yang lengkap. Maka kegiatan kehumasan pada hakikatnya adalah kegiatan komunikasi, namun berbeda dengan kegiatan komunikasi lainnya. Kegiatan komunikasi dalam kehumasan mempunyai ciri-ciri tertentu. Ciri-ciri tersebut antara lain sebagai berikut:
1.    Komunikasi dalam kegiatan humas berlangsung dua arah (timbal-balik).
2.    Kegiatan yang dilakukan terdiri atas penyebaran informasi, penggiatan persuasif, dan pengkajian pendapat umum.
3.    Tujuan yang hendak dicapai adalah tujaun perusahaan/ organisasi tempat humas berada;
4.    Sasaran yang dituju adalah khalayak internal dan khalayak eksternal;
5.    Efek yang diharapkan  adalah terbiananya hubungan yang harmonis antara perusahaan dan khalayak.
Kehumasan senantiasa berkenaan dengan kegiatan penciptaan pemahaman melalui pengetahuan, dan melalui kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan akan muncul suatu  dampak, yakni berupa perubahan yang positif. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kunci sukses humas adalah melalui komunikasi. Artinya, keberhasilan humas untuk mencapai tujuannya bergantung kepada sejauh mana humas itu dapat menjalin hubungan yang baik dengan masyarakatnya, baik khalayak internal maupun eksternal.
Misi yang diemban oleh humas yakni memberikan pelayanan informasi kepada masyarakat tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan kebijaksanaan, kegiatan dan tindakan organisasi/ perusahaan. Pelayanan informasi tersebut hanya dapat dilaksanakan melalui komunikasi.
Dalam pengertian teoritis, hubungan masyarakat merupakan bagian integral dari suatu kelembagaan dan bukan suatu fungsi atau bagian yang berdiri sendiri. Hubungan masyarakat adalah penyelenggara komunikasi timbale-balik antara suatu lembaga tersebut. Dari pihak suatu lembaga, komunikasi seperti ini diajukan untuk menciptakan saling pengertian dan dukungan bagi terciptanya tujuan, kebijakan dan tindakan lembaga tersebut. Dengan kata lain, Hubungan masyarakat berfungsi menumbuhkan hubungan baik antara segenap komponen pada suatu lembaga dalam rangka memberikan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi. Semua ini bertujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan penengertian dan kemauan baik (good will) publiknya serta memperoleh opini public yang menguntungkan (atau untuk menciptakan kerja sama berdasarkan hubungan yang baik dengan public).
Kunci sukses suatu komunikasi, dalam hal ini komunikasi dalam hubungan masyarakat, sangat tergantung pada pelaksanaan komunikasi yang efektif. Dalam kaitan dengan prinsip komunikasi yang efektif, hal-hal yang diperhatikan adalah :
1.         jenis publik (khalayak) yang menjadi sasaran
2.         susunan pesan bagaimana yang paling tepat dan mudah dipahami
3.         saluran apa yang paling sesuai dengan sifat public yang dituju
Demi efektifnya komunikasi, maka pengetahuan secara terperinci tentang public yang dituju sangat penting. Ini berarti, sifat dan ciri public yang dituju didalam kegiatan hubungan masyarakat haruslah diketahui. 
“The more carefully oer difine various publics, the more ways of reaching and influencing them one will discover” (semakin teliti orang menentukan khalayak yang dituju, semakin banyak diemukan cara-cara untuk mendekati dan mempengaruhinya).
Karena itu meskipun penelitian mengenai khalayak (audience research) cukup mahal biayanya, tapi itu harus dilakukan demi diperolehnya cara dan teknik untuk mempengaruhinya.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pembahasan sebelumnya, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1.    Komunikasi adalah suatu proses pengiriman pesan dari komunikator (pengirim) kepada komunikan (penerima) melalui media tertentu dengan mengharapkan umpan balik untuk menghasilkan efek.
2.    Kehumasan (humas) adalah suatu kontak atau hubungan yang diadakan oleh suatu organisasi atau perusahaan dengan publik, baik publik internal maupun eksternal. Kehumasan merupakan suatu proses komunikasi dengan ciri khas komunikasi dua arah (timbal-balik).
3.    Hubungan komunikasi dengan kehumasan sama halnya ketika berbicara masalah hubungan komunikasi dengan dakwah. Dakwah merupakan suatu proses komunikasi, namun tidak semua proses komunikasi merupakan proses dakwah. Demikian pula dengan kehumasan (humas). Humas merupakan suatu proses komunikasi, namun belum tentu proses komunikasi merupakan suatu proses kehumasan.


DAFTAR PUSTAKA

Buku Acuan
Atiya, Oemi Atiyah, 2007. "Profesionalisme Kehumasan", Komunika, Vol. 10, No. 1.
Black, Sam., dan L. Sharpe, Melvin. 1988. Practical Public Relations Common-Sense Guidelines for Business and Professional People. Diterjemahkan oleh Ardaneshwari dengan judul: Ilmu Hubungan Masyarakat Praktis. PT Intermasa, Jakarta.
M. Hardjana, Agus. 2003. Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Ruslan, Rosady. 2010. Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi. Rajawali Pers, Jakarta.
Suprapto, Tommy. 2009. Pengantar Teori dan Manajemen Komunikasi. Media Pressindo, Yogyakarta.
Tike, Arifuddin. 2009. Dasar-Dasar Komunikasi. Kota Kembang, Yogyakarta.

Internet
http://blog.elearning.unesa.ac.id/m-saikhul-arif/makalah-komunikasi-dalam-pendidikan
http://teorikuliah.blogspot.com/2009/07/ruang-lingkup-humas.html


0 komentar:

Posting Komentar